PT.INDO WINMEDIA GRUP
SITUS WEB PORTAL/PLAFORM DIGITAL

🕸 *MENGAPA TERJERUMUS DALAM IBADAH KEPADA SELAIN ALLÂH?* 🕸💎

0

Winnet.id, Inspirasi Islami – Bismillaahirrahmaanirrahiim – Tidak seorangpun Muslim yang mengingkari bahwa beribadah kepada selain Allâh adalah kufur dan syirik akbar. Tetapi mengapa sebagian kaum Muslimin terjerumus ke dalam kemusyrikan ini? Ternyata terdapat masalah-masalah rancu yang melilit pemahaman sebagian kaum Muslimin, sehingga tanpa disadari mereka terperangkap ke dalamnya.

✏️Ada beberapa sebab yang mengakibatkan rancunya masalah-masalah itu, mudah-mudahan pemaparan yang singkat ini, dengan taufiq Allâh, akan membuka hati kaum Muslimin untuk lebih menjaga keutuhan tauhidnya dan menjauhi segala wasilah syirik. Beberapa sebab itu antara lain berupa kesalahan dalam hal-hal berikut.

💎 PENGERTIAN BERHALA

✏️Menyembah atau beribadah kepada berhala, jelas merupakan kekafiran. Jika itu dilakukan bersamaan dengan beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla , berarti itu adalah kemusyrikan, syirik akbar. Banyak sekali nash yang menegaskan supaya orang di zaman ini atau zaman sebelumnya, meninggalkan penyembahan kepada sesembahan-sesembahan selain Allâh Azza wa Jalla itu. Di antaranya firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah untuk Allâh, maka janganlah kamu menyembah apapun selain Allâh di dalamnya.
📘[al-Jin/72:18].

✏️Ketika Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya oleh ‘Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu tentang dosa apakah yang paling besar, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

أَنْ تَجْعَلَ للهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ. رواه البخاري ومسلم

Apabila engkau menjadikan selain Allâh sebagai tandinganNya yang disembah, padahal Dialah yang telah menciptakan engkau.
📘[HR Bukhârî dan Muslim][1].

✍Footnote :
📘[1]. Shahîh al-Bukhârî dalam Fathu al-Bâry VIII/163, Kitâb at-Tafsîr, Bâb III no. 4477 serta yang lainnya, dan Shahîh Muslim bi Syarhi an-Nawawî, tahqîq Khalîl Maˈmûn Syîhâ, Dâr al-Ma’rifah, Beirut, Cet VII, 1421 H/ 2000 M, II/266-267, no. 253.

Sumber : Grup WA Kajian Dakwah Islami

Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin

Leave A Reply

Your email address will not be published.