WADAH ISLAMI

Siapakah Orang Yang Faqih ( Dianggap Paham ) Dalam Masalah Agama..?

Winnet.id, Inspirasi Islami – (1). Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda :

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Barangsiapa Allah menghendaki kebaikan padanya, maka Allah faqihkan (pahamkan) dia dalam urusan agama” (HR. Bukhari no. 71
dan Muslim no. 1037, hadits Mu’awiyyah)

(2). Mujahid bin Jabir رحمه الله berkata :
“Orang yang faqih adalah orang yang takut kepada Allah meskipun ilmunya itu sedikit, sedangkan orang yang bodoh adalah orang yang bermaksiat kepada Allah meskipun ia ilmunya banyak” (Al-Bidaayah wan Nihaayah IX/255)

(3). Al-Hasan al-Bashri رحمه الله berkata :

أتدري ما الفقيه؟ : الفقيه: الورِع، الزاهد، المقيم على سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم، الذي لا يسخر بمن أسفل منه، ولا يهزأ بمن فوقه

“Tahukah kamu siapa itu orang yang faqih ?
Orang faqih adalah orang yang wara’, zuhud, yang menegakkan sunnah Rasulullah ﷺ, yang tidak menghina orang yang lebih rendah darinya, dan tidak mengolok-olok orang yang ada di atasnya” (Ibthaalul Haili hal 22 oleh Ibnu Baththah)

إنما الفقيه الزاهد في الدنيا، الراغب في الاخرة، البصير بدينه، المدوم علي عبادة ربه، الورع الكاف عن أعراض المسلمين، العفيف عن أموالهم، الناصح لهم

“Sesungguhnya orang yang faqih itu adalah orang yang zuhud terhadap dunia, inginkan akhirat, berilmu tentang agamanya, selalu berada di atas peribadatan kepada Rabbnya, bersikap wara’, menahan diri dari gangguan terhadap kehormatan kaum muslimin, orang yang menjaga dirinya dari (meminta-minta) harta mereka, dan orang yang menginginkan kebaikan bagi mereka” (Mukhtashar Minhajul Qashidin hal 12)

(4). Fudhail bin Iyadh رحمه الله berkata :

إنما الفقيه الذي أنطقته الخشية وأسكتته الخشية، إن قال قال بالكتاب والسنة وإن سكت سكت بالكتاب والسنة، وإن اشتبه عليه شيء وقف عنده ورده إلى عالمه

“Sesungguhnya orang yang faqih itu adalah seseorang yang saat dia berbicara didasari dengan rasa takut (kepada Allah), dan saat diam pun dikarenakan rasa takutnya (kepada Allah). Dan ketika dia berbicara, maka dia berbicara di atas al-Qur’an dan as-Sunnah, dan jika dia diam, maka diamnya pun di atas al-Qur’an dan as-Sunnah. Dan apabila ada perkara yang samar baginya maka dia pun berhenti dan mengembalikannya kepada ulamanya” (Thabaqaatul Hanaabilah II/150)

Sumber : Grup WA Kajian Dakwah Islami
✍ Ustadz Najmi Umar Bakkar

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close
%d blogger menyukai ini: