Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
DaerahNews

Merasa Dirugikan, Petani Tebu Gelar Aksi Damai Tuntut PT. Pabrik Gula Gorontalo

400
×

Merasa Dirugikan, Petani Tebu Gelar Aksi Damai Tuntut PT. Pabrik Gula Gorontalo

Sebarkan artikel ini

Winnet.id – Puluhan masa aksi yang berasal dari Desa Gandaria kecamatan Tolangohula terlihat memadati pintu gerbang dari PT. Pabrik Gula Gorontalo guna menuntut hak mereka dikarenakan, hasil musyawarah yang sebelumnya tidak berjalan dengan baik. Sehingga masa aksi kembali melakukan aksi damai dan menuntut untuk dilakukannya dialog kembali dari perusahaan tersebut, Selasa (31/01/2023).

Aksi ini dilakukan karena masyarakat belum puas dan kecewa terhadap PT. Pabrik Gula Gorontalo karena, kesepakatan dalam upaya dialog sebelumnya dianggap gagal dan tidak terealisasikan dengan baik.

Pada dialog sebelumnya masyrakat petani yang diwakili oleh Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) menuntut agar penyetaraan harga tebu di Provinsi Gorontalo mengikuti harga yang di tetapkan oleh pemerintah sebesar Rp. 600.000,- per ton.

Namun, menurut para petani tebu, PT. Pabrik Gula Gorontalo tidak dapat menepati kesepakatan dan terkesan lalai padahal, sudah dua kali menempuh musyawarah terkait masalah penyesuaian harga tebu ini. Dan APTR pun sudah memaksa pihak perusahaan agar bisa menyesuaikan harga tebu, dengan melibatkan petani dalam penetuan harga tebu tersebut.

Seharusnya menepati hasil musyawarah, PT. Pabrik Gula Gorontalo dengan seenaknya menentukan harga tebu secara sepihak tanpa melibatkan petani dalam penetapannya.

“Mereka ini ngawur, hasil musyawarah minta penyesuaian harga, tapi tiba-tiba mereka naikkan harga tanpa musyawarah dulu dengan petani, kami butuhnya naik berapa kan belum dibicarakan,” jelas salah satu masa aksi yang tidak ingin disebut namanya.

Aksi damai kali ini juga turut dihadiri oleh perwakilan komisi 2 DPRD Provinsi Gorontalo, Warsito Sumawiyono, yang turut andil dalam penyampaian aspirasi dari masyarakat petani tebu.

Dalam orasinya, Warsito menyampaikan bahwa seharusnya perusahaan bisa adil dan menyetarakan harga petani di Gorontalo maupun diluar Gorontalo.

“Hari ini, kami datang bukan untuk meminta kenaikan harga, kami hanya menuntut adanya keadilan dan kesetaraan antara petani yang ada di Gorontalo dengan petani di luar Gorontalo,” ungkapnya.

“Harus kita ketahui bersama bahwa, hari ini pemerintah menetapkan harga beli tebu serendah-rendahnya 600.000/ton,” sambung Warsito.

Namun demikian, Pihak PT. Pabrik Gula Gorontalo enggan bertemu dengan masa aksi yang sudah lama berada di depan pabrik gula tersebut. Masa aksi yang geram pun mencoba menerobos masuk ke dalam pabrik hingga hampir merobohkan pagar yang ada di pabrik itu.

Pada akhirnya masa aksi diperbolehkan masuk dan menggelar dialog bersama General Manager dari PT. Pabrik Gula Gorontalo.

Dari hasil dialog tersebut mendapatkan kesepakatan bahwa harga tebu disesuaikan menjadi Rp. 500.000,-/ton.

Namun harga tersebut masih dalam tahap perundingan kembali dalam kurun waktu 1 bulan.

“Kami tentunya masih akan melakukan perundingan dengan direktur perusahaan, karena segala keputusan itu dari direktur,” ungkap General Manager PT. Pabrik Gula Gorontalo.

“Kami telah sepakat bahwa, petani yang akan mulai menebang, tebunya akan dihargai RP. 500.000,-/ton,” jelas Warsito.

“Namun harga ini belum fix, jadi kami memberi batas waktu 1 bulan pada pihak PT PG Gorontalo untuk menyampaikan harga fix kepada seluruh petani,” tegas Warsito.

“Jika sampai dengan batas waktu yang telah ditentukan, pihak PT PG Gorontalo tidak menyampaikan hasil final harga tebu, maka kami siap untuk melakukan aksi yang lebih dari ini,” sambung salah satu orator masa aksi yang ikut berdialog didalam kantor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *