Antrean BBM di Marisa Jadi Perhatian Dedy Hamzah Saat Reses

banner 120x600
banner 468x60

WINNET – Persoalan pasokan bahan bakar minyak (BBM) dan antrean kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) menjadi perhatian Anggota DPRD Provinsi Gorontalo, Dedy Hamzah.

Perhatian tersebut ditindaklanjuti melalui kunjungan kerja ke SPBU Sipatana, Desa Buntulia, Kecamatan Marisa, Kabupaten Pohuwato, Kamis (6/11/2026).

Kunjungan dalam rangka kegiatan reses tersebut bertujuan memperoleh informasi langsung dari pihak SPBU dan Pertamina terkait kondisi pelayanan, ketersediaan stok, serta mekanisme penyaluran BBM kepada masyarakat.

Dalam pertemuan itu, sejumlah persoalan dibahas, mulai dari kondisi stok BBM, antrean kendaraan, perubahan pola konsumsi masyarakat, penggunaan barcode, penyaluran BBM bersubsidi, kuota SPBU, hingga potensi penyalahgunaan dan penjualan kembali BBM bersubsidi.

Manajer SPBU Sipatana, Arab Maman, menjelaskan bahwa secara umum ketersediaan stok BBM di Integrated Terminal atau Depot Pertamina Gorontalo masih dalam kondisi aman.

Ia menyebutkan, stok Pertalite saat pembahasan berada di kisaran 3.362 kiloliter dengan ketahanan pasokan (coverage day) sekitar 2,8 hari.

Meski demikian, kondisi stok di depot tidak selalu mencerminkan ketersediaan BBM di SPBU. Menurut Arab, kendala logistik dan distribusi regional menyebabkan pasokan di nosel pengisian SPBU terkadang terputus.

“Pasokan BBM sebenarnya tetap dikirim setiap hari. Namun, dalam beberapa waktu terakhir jumlah pengiriman mengalami pengurangan karena adanya pengurangan volume BBM yang diangkut kapal,” jelasnya.

Ia menerangkan, persoalan tersebut berkaitan dengan rantai pasok distribusi BBM menuju wilayah Gorontalo. Sementara itu, keterlambatan maupun pengurangan pengiriman melalui kapal bukan menjadi kewenangan pihak SPBU.

Arab juga mengungkapkan, pasokan normal untuk SPBU di wilayah Marisa mencapai 32 kiloliter (KL) per hari. Namun, sebelumnya volume pengiriman sempat turun menjadi 16 KL.

Saat ini, distribusi BBM ke Marisa kembali mengalami peningkatan menjadi 24 KL per hari.

Selain persoalan distribusi, lonjakan permintaan BBM bersubsidi turut memengaruhi panjangnya antrean kendaraan di SPBU.

Menurut Arab, perbedaan harga yang cukup signifikan antara BBM nonsubsidi, seperti Pertamax Series dan Dexlite, dengan BBM bersubsidi mendorong sebagian masyarakat beralih menggunakan Pertalite dan Solar.

Perubahan pola konsumsi tersebut menyebabkan permintaan BBM bersubsidi meningkat dan antrean kendaraan melonjak hingga melampaui rata-rata kondisi normal.

Melalui kunjungan tersebut, Dedy Hamzah memperoleh gambaran langsung mengenai sejumlah faktor yang memengaruhi pelayanan BBM di wilayah Pohuwato, baik dari sisi distribusi, ketersediaan stok, maupun meningkatnya kebutuhan masyarakat.

Persoalan ini menjadi perhatian karena kelancaran distribusi BBM berkaitan langsung dengan aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat, khususnya di Kabupaten Pohuwato.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *