banner 728x250

Ternyata Kamu Hadir Sebagai Tamu Yang Singgah

banner 120x600
banner 468x60

WINNET.ID- Tak ada yang mau jatuh hati sedalam-dalamnya jika ujungnya hanya memakan luka sendirian. Benang-benang yang dirajut dari awal memang hanya menandakan sebatas butuh. Kamu tak benar melirik hatiku dengan baik kali ini. Namun keadaan lebih buruk dari dugaanku, bagaimana bisa ruangan ini penuh dengan peta tubuhmu. Aroma lekat yang bisa saja ku buang dengan segera justru tinggal tanpa permisi.

Sudah dari awal pembahasan ini terjadi, sayangnya kamu tidak memperhatikan dengan baik, semua hanya tertutupi oleh rasa penasaran yang tinggi di dalam isi kepalamu. Bagaimana sosok wanita yang kini memenuhi bola matamu, apakah dia menyenangkan, apakah dia mampu memenuhi rasa keingintahuanmu yang begitu dalam. Sungguh sebenarnya aku telah membenci urutan tragedi yang selalu sama saja akhirnya.

Baru saja ku sebut dirimu adalah tamu, menginginkanmu hanya sebatas bagaimana aku diperlakukan manis oleh mu. Tidak lebih dan sudah kucukupkan agar tidak melonjak jauh dari batas yang sudah ditentukan. Kisi-kisi sudah terencana, tak ada yang tahu kedekatan ini. Bahkan mengorek kehidupanmu lebih jauh akan menjadikanku ketergantungan dan untuk itu aku tak menginginkannya. Kita sudah berbeda dari awal, kehidupanmu dan kehidupanku yang mungkin sulit untuk dipertemukan.

Sial dan parahnya tingkat insecure dalam diri ini menahan langkah untuk stop dan berbalik arah saja. Kamu tau benar maksud ini, oh tentu saja aku tidak akan memberitahumu. Untuk apa? Kita bukan sepasang kekasih yang berbagi kasih sayang memulai perjalanan baru, berbagi foto kebersamaan di laman sosial media. Menulis ucapan sayang yang manis, mengajak kencan di lingkungan pertemanan mu, mengenalkanku kepada keluargamu atau menelfon hingga pagi sungguh definisi itu tidak ada dalam persoalan ini.

Bagaimana ini dimulai?, tamu itu datang dari hal yang tak pernah kupikirkan akan menjerumuskanku sedalam saat ini. Baiklah bagian ini nanti saja akan kuberi tahu yang pasti kisah bermula dari sebuah foto. Apakah kamu tau ? aku memiliki kebiasaan yang unik belakangan ini. Kegabutan menjadikanku ingin mengenal banyak orang namun terlalu takut dan gengsi untuk mengikuti terlebih dahulu atau bahkan mengirim pesan sebagai awal perkenalan. Sudahlah aku tidak sepercaya diri itu untuk melakukannya. Sebagai gantinya aku akan memberikan jejak agar tuan-tuan berencana datang pada profil milikku, walau hanya memberi jejak kembali atau bahkan membuka jalan padaku.

Sudah jelas bukan?, apa yang selanjutnya akan bermain pada pintu di depan rumahku. Itu bukan sebuah umpan, aku hanya meninggalkan jejak untuk orang-orang yang memiliki rencana dan isi kepala luar biasa untuk dibagikan denganku secara cuma-cuma. Kali ini pemilik rumah sampai pada celoteh notifikasi berbentuk klasik namun menjagaku sepanjang satu menit dalam mendefinisikan rangkaian ekspresi yang harus aku keluarkan sedikit lagi.

Apakah ini rencana yang baru saja Tuhan berikan kepadaku setelah luka yang belum dibayar lunas untuk sembuh?. Mmm sepertinya aku tidak harus melebih-lebihkan, semua orang berhak mengambil jejak yang baru saja kutinggalkan kepada siapapun itu. Tidak!!! aku harus berekspresi seadanya saja, lebih baik walau ia seperti coklat keju yang banyak peminatnya.

Sebentuk notifikasi masuk dengan melukiskan pengirim sebagai bab pertama sebuah roman terkisahkan.

“haha lucu”

Sebingkai kata singkat yang hampir mematikan setengah saraf di dalam tubuhku. Tunggu!!! apakah aku sudah menginginkannya sejak awal? Tentu bukan, pasti bukan. Jangan ini tidak boleh berlanjut. Vania kamu tau tidak ada rencana-rencana pembahasan masa depan dengannya. Ia hanya akan berakhir dengan kecemasan yang menikam dirimu setiap hari. Lalu kembalikan saja ekspresimu dengan ringan, jawab seadanya dan seperlunya saja. Atau langkah lainnya meninggalkan jejak menyukai saja dan berakhir.

Tapi ternyata aku berbohong, hatiku menolak merencanakan jawaban ringan, bahkan dalam kepala ada banyak uraian kalimat yang bisa memperpanjang pembahasan dan akan terus berlanjut. Aduh ini egois, menjebak diri sendiri di atas rasa ingin yang menerjang dengan deras dan hebatnya.

“haha apa yang lucu”

Aku tergopoh-gopoh padahal tidak bertemu dengannya, ini edan!, wajah yang tampak sumringah kali ini terus saja membayangkan hal hal goblok yang jelas-jelas hanya ilusi. Bagaimana bisa senyum semanis ini, ah Tuhan aku ingin mengadu padamu. Mengapa kau ciptakan perasaan seaneh ini, apakah kali ini hanya jebakan lagi? Apakah aku harus tinggal di tingkat jiwa yang runyem, rusuh, sesekali ingin menjerit dan bertanya-tanya atas apa yang terjadi?.

Jika ini ku ceritakan pada orang lain, tentu para pakar cinta akan mengatakan “halah baru juga kenal udah suka, udah lah jangan mudah menyukai kaya gini. Kamu akan terjebak nantinya”. Lalu aku pun akan diam seolah-olah orang paling buruk yang tidak paham persoalan cinta. Tuhan barangkali aku hanya penasaran, jika ku lanjutkan tentu akan terancam dengan rasa nyaman dengan kadar waku yang lumayan panjang bersama konsekuensi tersakiti yang luar biasa.

Pesan yang baru saja ku kirimkan hanya meninggalkan jejak telah terbaca, mungkin ia bingung atau sedang sibuk. Aku meluruskan isi kepala yang tiba-tiba dihantam banyak bentuk rupa macamnya rasa was-was, sedikit takut bila ia mundur atau mungkin aku tak seasik bayangannya. Sampai disini aku memutuskan untuk berhenti dan berpindah haluan agar tidak terfokus pada notifikasi milik tamu.

***

Esok hari menyebrang, mata kembali rusuh dan rawan melihat matahari kota ini yang lebih menyengat dari kesendirian. Ah beban kampus memang sungguh menyebalkan, penjara yang belum memerintahkan tahanan nya untuk lulus saja dan menyandang gelar wisudawan terbaik semisal. Akibat buruknya sih selalu mendapatkan teror kenyataan yang lebih seram bahkan lebih horror dari berjalan melewati kuburan di tengah malam menuju pagi.

Sudah malam-malamku dirampas, pikiranku di tekan, fisikku terancam kurus melontong, finansialku lagi ditembak. Bagaimana ini? Ah sudahlah lebih baik ku unggah foto memegang ukulele kali-kali ada seseorang yang memberi setidaknya ruang berbeda yang menenangkan.

“Take me home im fallin~”

Pada layar putih, sepucuk notifikasi muncul bak kejutan ulang tahun di siang bolong, tunggu apakah ini adalah sepaket usaha pendekatan yang harus ku abaikan saja?. Jika mulai akrab tentu setelah ini apalagi jika bukan pertemuan yang terjadi.

“sini ku gitarin”

Iring-iringan sahut-menyahut seperti sedang menjadi pawai di sekenario kalimatku, yang mana yang harus ku berikan padanya. Semua mendadak panik, aku tak sebiasa ini menerima pesan notifikasi instagram hingga harus kelabatan memikirkan apa jawaban yang tidak akan putus. Aku pun memilih penawaran kepadanya, tak lama proses pengetikan terjadi, dan sebuah notifikasi kembali muncul

“sip aku nyanyi deh,”

“oke satu dua tiga, “ sahutku sambil meredakan sorak yang hampir terdengar seperti letusan gunung berapi.

“gitarin langsung aja gimana ?”

Dam, sudah kuduga ini akan segera merebut paksa urutan yang baru saja kujelaskan. “shit” umpatan yang tumbuh dan serempak keluar begitu saja dari mulutku. “Vania stop, kendalikan dirimu. Kamu sudah melalui proses ini dan lagi, lagi bahkan lagi.”

Sudah bukan hal yang pertama untuk mendapatkan kalimat lengkap dengan kode seperti ini. Mau kuberi tahu apa kisah paska ku lanjutkan jawaban ini dengan sepasang jejak jejak kalimat mengarah pada pertemuan?. Tentu saja kami akan bertemu, bersaksi tentang cerita kebaikan saja. Berpapasan dengan kenangan lama yang dibuat semanis mungkin untuk diterima. Seperti sepasang kupu-kupu yang baru saja lepas dari kepompongnya.

“yah tapi lagi hujan disini”

“emang lagi dimana?”

“biasa ngampus, “

“kenapa gak bilang dari tadi, padahal bisa nyusul pas jam istirahat kerja.”

“yah kan aku gak tahu”

Bagai gadis polos, aku pun masih mengikuti alurnya. Menerima persoalan atau pemberitahuan yang baru saja ia lontarkan dengan mudah padaku. Kali ini tidak boleh diseret berlebihan. Karena yang hidup hanya kata-kata bukan hatinya. Yang kuterima hanya senjata yang berulang kali telah menembak hingga cukup berdarah dan membekas begitu lama.

 “ iya sih, next lah ketemu, atau kalau kamu free sore setelah jam 4 begitu kabarin”

“hokey, nanti aku kabarin”

Sudah di depan pintu, aku berjumpa kode yang sama. Ujungnya? Jelas bukan. Ini bisa lebih dari persoalan perasaan. Paling lancangnya adalah riwayat hati yang kembali diseret. Mau di jahit serapi apapun ia dapat terluka kembali, terkoyak kembali. Disini puluhan nama mampir, diantaranya tinggal dan memberi cahaya sisanya berakhir badai. Prosesnya pun tak jauh berbeda. Mengenal, membiarkan kenyamanan hidup lebih dahulu dan akhirnya terjebak. Kabar baiknya jika dua dua terjebak, dan buruknya apabila hanya salah satu yang terjebak lebih buruknya adalah meninggalkan secara tiba-tiba.

Mengeluh sedikit hanya akan mendapat kecaman “siapa suruh baru beberapa hari mau menerima” kalimat yang selalu saja menghadiri kawasan dan area yang jika boleh kamu rasakan rasakanlah lebih dahulu sebelum berceloteh panjang. Bagaimana aku menolak perasaan? Jika tumbuhnya saja aku tak benar-benar sadar alasannya mengapa?. Yah atau aku memang sengaja menginginkannya hingga terluka sendiri. Kalau kalau kalah, cinta tak pernah menjadi penjahat.

Pesan pun kembali terbaca, kali ini tidak ada balasan seperti biasanya. Aku pun meletakkan kembali telepon genggam pada tas yang sedang ku bawa lalu memilih pulang ke rumah. Beristirahat dan berhibernasi di ranjang tempat tidur adalah obat paling ampuh mengatasi asap dan abu yang baru saja berpelukan begitu erat.

Di dalam perjalanan aku menemukan banyak sekali orang, ada yang sedang tertawa sambil melihat pasangannya, ada yang sedang marah-marah ketika hari tidak bersepakat dengannya, ada yang terpaksa memberi senyum walau hatinya menolak dengan keras. Lalu di persimpangan lampu merah mata ku menyebrang memikirkan betapa kepala mereka penuh dengan hal-hal yang mungkin aku tak sanggup menjamahnya. Tahu-tahu mereka hanya berekspresi, mengirim bentuk kode yang bisa saja jika cukup pandai mampu untuk dicerna. Sungguh begitu aneh mataku yang terlalu repot-repot bertanya komplotan pikiran mereka yang sedang di jalan.

Setelah seharian di urut dengan masalah kampus, akhirnya aku sampai di rumah. Membersihkan tubuh dan kepala yang mulai pening memikirkan banyaknya kadar masalah yang tiba-tiba meluas dan melebar. Semakin dewasa, bukan hanya tanggungan keuangan yang harus kupikirkan. Tapi bagaimana mental ku yang kadang-kadang lemah, kemudian dihantam kata dan kalimat begitu berat, berlagak kuat dan akhirnya mengaku capek lengkap dengan pergolakan hati yang uber-uberan.

Dewasa tidak semenyenangkan pikirku sewaktu kecil, mereka lebih berhamburan sesuka hati, mengurusi seluruh pekerjaan yang berat menyita rasa, waktu dan fisik. Ditambah belakangan ini aku seakan diingatkan berkali-kali, bahwa sudah berkerut wajah ibu bapakku, memutih rambut dikepalanya. Isi kepala yang menerka-nerka mulai panik memikirkan satu hal yang buruk bisa saja menimpa sebelum aku berhasil memberi kabar kesuksesan dan memberinya bahagia.

***

Dua hari berlalu, kegiatan semakin memadat, tuntutan kian memberat. Tidur tak seimbang, mata yang dalam dan bergaris hitam dibawahnya. Kerut keningku memperhatikan ruang-ruang komunikasi yang berada di handphone. Seperti perjalanan yang ruwet sekali, banyak lelaki yang berisik mencoba mengusik dan masuk dengan banyak embel-embel.

Entah mengapa jika bukan yang ku mau, sampai kapanpun tidak akan kuberi nada-nada penghibur kecuali aku hendak bermain-main saja. Yah tentu buruk tapi memang seperti itu adanya. Ya sudahlah daripada aku hanya menjadi topeng gaib yang nantinya justru membuat kegelisahan, secepat mungkin mengganti saluran penglihatan adalah jalan ninjaku. Membiarkan semua notifikasi tak berguna menjerit-jerit memberi isyarat untuk membuka dan bahkan membalas satu-persatu.

Benar adanya, kesepian tengah membumi diantara lajur pikiran dan keadaan hari ini. Aku tidak ingin membiarkan keberagaman masa lalu kembali terungkit. Hanya tak tahan saja, bila yang dibawa ingatan adalah hal-hal yang justru sakit dan terasa perih. Susah-susah aku membahagiakan hati, hanya karena mood dan perasaan sedang terganggu ia bisa semudah itu masuk dan kembali teringat.

“aku ingin jalan-jalan ah, tapi gak ada yang pengen ku ajakin” dasar isi hati yang membuat semuanya jadi ribet. Mau bagaimana ini seperti ngidam, apakah aku harus pergi saja sendiri. Tapi pasti aku akan jadi bahan pembicaraan karena hanya jalan sendirian, lalu paling buruknya dikira bunuh diri. Ah menyebalkan. Memikirkannya saja sudah membuatku sangat merasa lelah, bagaimana menjalaninya.

Tidak lama setelah itu satu notifikasi muncul, sungguh aku tidak ingin melihatnya. Pengirimnya sudah jelas-jelas terpampang membuat gelisah seketika. Ini berantakan, jika kubuka tak mungkin akan tetap waras, makin kulanjutkan makin besar rasa keinginanku. Bahkan menatap fotonya saja mengerikan, padahal sudah sengaja ku patahkan saja kisah ini.

Lagi dan lagi aku harus berdebat persoalan yang sebenarnya mudah saja untuk diakhiri, tapi makin rumit sesuatu di hadapanku makin beragam cara ku berpikir menemui jalan-jalan buntu, atau jalan lurus yang dapat membawaku keluar. Baiklah ku jawab saja, mungkin akan memberi titik terang setelah ini.

“kamu dimana?”

Ada satu isyarat yang langsung membawaku pada kecemasan dengan kadar cukup ringan, jika tidak dibalas maka aku tidak akan pernah mengetahui apa adegan selanjutnya. Dipikiran ku sudah ada kisi-kisi tapi logisnya akan jelas ketika jawaban dipecahkan saja.

“Di kos nih, “

“Tar aku kesitu yah,”

Dek, aku kira ini ringan. Tapi kenapa seperti diguncang gempa bersekala 6.9 jika digenapkan jadi 7 saja. Eh apa ini sudah dipecahkan namun kenapa justru aku yang urak-urakan perkara hati yang berdebar tidak jelas. Masih bolak-balik menanyai, harus ku kembalikan dengan bentuk apa pertanyaan sekaligus jawaban itu. Seperti telur yang baru menetas kenapa aku jadi segoblok ini. Kata-kataku makin terjerat mencari apa yang menggambarkan oke namun tidak terlihat seperti berharap.

“mau keluar?”

“enggak sih, mampir aja dulu”

Demikianlah, ketika kalimatku diringkus habis sampai ketulang-tulangnya, apakah ini yang dinamakan kencan untuk pertama kalinya, atau sebagai upaya perkenalan saja. Dia orang yang penasaran terhadapku begitu pula aku yang sesungguhnya juga bertanya-tanya tentang dirinya. “Vania anggaplah ini misteri dan kendalikan yang hatimu sialan!!!!!”

“boleh sih, tapi ruang tamu ku kursinya lagi diperbaiki, “

“ya udah di dalam mobil aja ngobrolnya,”

“boleh deh”

“kirim nomor yah, biar aku telfon nanti kalau udah mau kesana”

“jam berapa kesini?”

“paling jam 16.30 sepulang kerja aja”

“oke kabarin yah”

Disini adalah jalur pertemuan ku dengannya, kalau kata drama korea adalah kencan pertama dimana orang yang belum pernah bertemu, tidak mengetahui liang luka pada dirinya yang suatu hari bisa menyeretku ke ruang eksekusi tergelap dan membuatku hanya mampu mengeja sakit dan air mata. Baiklah ditunda saja dulu perkara sakit dan air matanya.

Kini aku bergegas pergi bersiap-siap, waktu menunjukkan pukul 16.00 artinya masih ada 30 menit untuk memberi wajah sedikit persembahan pada pertemuan pertama. Ini terdengar manis bukan? Tapi kenapa hatiku masih menjadi sialan sampai detik ini. Debar ini menggangguku, tidak bisakah ini menjadi biasa saja,

“haaaaaaaaaaaaaaaah”

Mendesah ah, mengeluh uh, tidak adakah tombol untuk mematikan saja debar ini aku tidak paham kenapa bisa separah ini. Apa-apaan ini, aku tidak sedang menyukainya kan. Oh tentu saja tidak, ini baru permulaan tidak mungkin aku menaruh hati padanya.

“aku otw yah, share lokasi ke aku”

“oke bentar, “

“aku menuju yah”

“iyah”

Pesan itu membawa detak jantungku seperti akan barakhir saja, sungguh jika boleh ku rampas jantung ini, ingin rasanya mengambil lalu menyimpannya terlebih dahulu agar tidak mengganggu.

15 menit berlalu……dering telephone ku berbunyi,

“halo aku udah dekat nih”

“kamu yang lewat tadi mobil abu-abu yah?”

“iyah rush abu-abu, kok tau”

“keknya kelewatan deh, mundur”

“astaga iya, bentar balik”

“oke”

Tak lama setelah aku mematikan panggilan, turun melewati tangga rumah dan berhenti tepat di pintu mobil milik tamu. “oke Vania, ini bukan pertama kalinya kamu bertemu orang baru. You can do it” riwayat pencarian momen ini sedang diupayakan kembali, memberi energi dalam rangka mencoba untuk tentram duduk dikursi yang sejujurnya aku tidak tau harus memulai dengan apa. Ia terus bermain handphone, bagaimana aku memulainya.

Ah sial kenapa aku harus terjebak di keadaan  canggung, ayo Vania kamu bukan orang yang tidak memiliki topik untuk dibahas. Tapi entah kenapa ini jadi berbeda, aku harus bagaimana, kerongkonganku mengering, kata-kataku jadi terbata-bata jika dipaksakan keluar begitu saja. Tarik nafas dan tenang Vania, nanti juga ia akan memulai percakapan tidak mungkin kamu dan dia akan terus menerus jadi si bisu yang habis menatap wajah saja.

“eh sory yah, aku soalnya lagi download video dulu”

“ah ia gak papa its okey” kataku sambil gremeng dalam hati, hah gitu kek dari tadi ngobrol. Gak ku kira bisu aja kan kamu.

“oke udah, eh kenalan dulu aku Rino”

“aku Vania”

“salam kenal yah”

“iyah salam kenal juga”

Entah perasaan ku yang emang mengembara, apa memang feelingku tepat, ia sebenarnya cukup lancang melihatku dari atas sampai bawah, tapi baiklah mungkin ini sebagai satu step perkenalan untuk orang yang sama sama baru. First impression akan membawa sikap-sikap selanjutnya yang terjadi. Pada pikiran panjangku, seorang wanita yang sedang merasa kekosongan hampir tak ada sekat untuk dirinya berjalan menuju  pintu rumahku.

Aku masih menepuk perasaan, mengingat bahwa belum lama aku mengenal dirinya. Bisa saja dia adalah orang jahat yang mampir untuk sekadar bermain dengan sembrono pada hatiku. Seusia, dan coklat manis panas seperti dirinya sangat tidak mungkin menjadi pemuda yang ngebut dan ngebet mencari pasangan. Bahkan aku memikirkan hal-hal buruk, semisal rumah miliknya telah ada penghuni. Berenang menujunya saat ini hanya akan membuatku jungkir balik berenang agar tidak tenggelam.

Kami berbincang-bincang seakrab mungkin, menjelaskan bagian-bagian penting dengan kadar dan diagnosis kejujuran bisa dinilai sendiri. Hampir sepanjang jalan, ia benar-benar berbakat berceloteh hal-hal di atas nalarku untuk hari ini. Ku pikir dia sedang sehat, mengingat betapa kondisinya stabil. Tapi pilihan pertanyaannya mulai menjurus kepada sebuah hubungan. Ia harusnya tahu benar betapa wanita menginginkan hubungan hanya persoalan kepastian.

Hubunganku yang baru kandas pun menjadi bahan cerita yang kita bahas sepanjang jalan. “kenapa kemarin putus” sahutnya sambil sesekali menatap wajahku yang mulai payah. Menyadari betapa aku akan salah apabila mendalaminya lebih jauh lagi. Ini memusingkan, memikirkan kalimat tepat yang tidak menyinggung isi hati Rino yang tentu saja menjadi uring-uringan di kepalaku.

“beberapa orang coba ikut campur, dan aku berpikir harus diakhiri sebelum jauh lebih sayang ke dia aja sih” ayolah jangan menambah daftar pertanyaan tentang ini. “loh kenapa gak lanjut kalau sayang,” bagaimana menjelaskan konsep sayang tapi tidak bisa dipaksakan padamu Rinooo. “ lebih ke keadaan yang gak bisa, jadi gak boleh dipaksa yah walau sangat besar perasaanku buat dia sih” anggukan kepalanya menjadi pertanda bahwa dia telah memahami argumen yang baru saja ku ungkapkan.

Sisanya hanya pembahasan persoalan kehidupan Rino dikota ini, program pendidikan lanjutan yang sedang di jalaninya dan tentang kapan ia akan kembali. Proses hubungan dengan masa lalu aku tak berani mengusik lebih dalam. Sebab aku tak tahu benar apa yang sedang ada dipikiran Rino, pembahasan apa yang sedang direncanakan dan kejutan apa yang hendak diberikan kepadaku. Bisa saja setelah ini formulanya berubah, awalnya mengikat dan seperti menjebak. Esok hilang tanpa terjerat.

Kami pun turun di antara langit senja dan gelap yang mulai mengikat. “kamu tahu banyak penduduk bumi yang ahli bergerak maju namun ternyata mundur” tunggu kenapa aku seberani ini, apa yang kulakukan dan tentu saja tidak bisa ditarik. Rino sudah mendengarnya.

“memangnya kenapa?”

“karena mereka cukup egois”

“kok bisa?”

“isi kepala mereka yang membuat egois”

Rino terdiam, aku sial. Ini hanya perumpamaan Rino, jika yang kamu inginkan hanya menjebak tolong jangan aku korbannya. Tarik ulur sangat menyakitkan bagi semua orang. Aku yakin kamu paham betapa seseorang mati-matian untuk sembuh dari luka. Lalu dengan mudah harus kembali tertusuk, sungguh tidak adil.

Sekejap kami menyaksikan senja yang pulang, sambil menikmati segelas coklat dingin dan suasana yang cukup sepi. Rasanya akan menipu jika aku tak terjerat oleh parasnya yang menenangkan. Namun tak ada yang tahu, ini hanya tentang isi kepalaku yang ngawur. Dia benar benar menjadi garis sederhana, dengan ketidakmungkinan yang nyata. Tapi aku tak memiliki kendali, untuk pura-pura tidak menginginkannya.

Setelah berdiri cukup lama, menatap langit dan bercerita tak banyak hanya seperlunya, kami berdua melangkah menuju mobil berwarna abu-abu miliknya. Tangan pun diayun menyuguhkan kejutan yang datang tiba-tiba. Benar sebuah tangan kini mengikat disela jari-jariku yang kosong.

Pertanda apa ini Tuhan?, aku tak mampu menafsirkan nya lebih jauh, jangan sampai ini meleset. Jika ini hanya permulaan dan pura-pura tolong jangan memberikan kebenaran atas perasaanku hari ini padanya. “Vania ini hanya salah satu dari upaya pendekatan tanpa status jelas, mohon kendalikan perasaan” jangankan ingin lari, kepalaku sudah serasa dipecah-pecah hingga berkeping-keping.

Kini mataku terikat padanya, musik menjelma menjadi arus hangat yang menenangkan. Satu lagi datang mengusik, terikat dan butuh jawaban lengkap. Kini aku bingung menerjemahkan  rasa yang membludak dan terus kudekap. Tidak ada kompromi setelah ini, ia memelukku dengan hangat sambil mengucap “I need cudling” intonasi suara yang bisa-bisanya mengancam seluruh sarafku untuk diam saja.

Dia sudah berhasil mengetuk pintu rumahku. Tunggu apakah aku buka atau tidak, kali ini cukup sampai disini. Kita akan segera bubar setelah sampai pada kediaman masing-masing. Tak ada jaminan hari ini bisa sama dengan hari esok, “ah gak mungkin kamu gak ada pacar” celah otakku berusaha menyadarkan segala aspek yang mulai liar dengan harap dan ingin tentu saja tidak bisa ku miliki. “aku cuma terakhir itu hubungan dengan perempuan sebatas FWB” benar-benar akan jadi masalah, wajahnya hampir menentramkan seorang wanita yang hanya butuh rumah yang membantunya hidup.

Sekarang ditambah kalimat apa yang harus ku upayakan terbang padanya. Jika yang aku pelajari sedari awal adalah dia tak ingin meletakkan aku pada rumahnya, ia hanya seorang pria yang menginginkan aku ada saat ia butuh. Hubungan apa ini tuhan, dia benar-benar merusak setengah pikiranku dari beberapa menit yang lalu.

“jangan lebih aku Cuma takut ini sebatas jebakan”, tolong Rino kita hanya butuh saling berterus terang, jangan menjebak perasaan terlalu gelap hingga aku menerka-nerka sesuatu yang fana. “aku masih ada kegiatan, dan dikit lagi balik untuk lanjutin pendidikan” kamusku berusaha menafsirkan semua kalimat yang baru saja Rino berikan “LDR maksud kamu?”, “ah udah ah ribet, aku Cuma butuh pelukan” pukulan keras yang tak bisa kulawan, dekapan nya kali ini berbumbu, dua mataku yang bening hampir tak bisa berkedip untuk tinggal pada parasnya.

Kami memadu, menjalani keajaiban yang kejam. Bahwa aku masih memiliki tanda tanya besar, kepastian yang tidak jelas dan menerka-nerka sepanjang waktu. Yang ku khawatirkan adalah semua kisah ini hanya menemui luka kejam dengan tingkat keparahan yang tidak bisa ku bayangkan.

Kita pun pulang, sebelum benar-benar jelas.

***

Genangan raut wajahnya hampir tak hilang, ia memilih membekas memberi ruang tersendiri pada ingatan yang harusnya ku hapus secepat mungkin sebelum semua menjadi boomerang di waktu berikutnya. “sepertinya aku harus melupakan saja semua yang terjadi” sahut hati, dari pada aku harus merasakan sekarat untuk jarak yang begitu panjang. Berlindung dari sebuah momentum patah hati adalah pilihan yang aku tahu memangkas sesuatu yang baru saja hendak tumbuh adalah hal yang paling menyebalkan. “aku berharap tidak ada perkara datang sekali lagi, menghancurkan rencana yang baru saja ku buat matang-matang”

Ternyata dia tidak melepaskanku, makin lama makin menjerat. Datang tiba-tiba lalu pergi dengan tiba-tiba. Mataku yang terus mengawalnya harus bersedia disetubuhi kegelisahan yang kerap hidup bersinergi tanpa rasa malu. Ia tidak pernah pergi setelah pertemuan pertama itu, aku mengira ini akan berakhir sebagai pelukan yang tidak akan terulang di waktu-waktu berikutnya. Musim ini menjadi sadar yang terus ku kendalikan, berpura-pura menarik diri namun selalu lemah ketika alurnya mendekat. Ini semakin kurang ajar, langkahku gaduh menemui lagi bau pekatnya yang tidak bisa hilang dan lenyap begitu saja.

Tak teraba dan terbaca, hari-hari semakin tak mudah ditebak. Ia yang hadir sebagai kehangatan terus saja menjelma menjadi tanda tanya yang tidak pernah tuntas. Setelah pertemuan itu, beberapa kali kami menghabiskan waktu berdua, menikmati rasa rehat untuk meluapkan semua kerusuhan pada permasalahan masing-masing.

Rino selalu datang dengan membawa tujuan tertentu. Kadang aku tak bisa menebak dan memilih mengikuti permainannya. Bukan karena aku ingin, aku hanya suka ketika pertemuan itu menghadirkan pelukan yang energinya sampai padaku. Bercerita hal-hal yang aneh di dalam mobil atau sekadar bernyanyi lagu-lagu yang menjadi favoritnya atau salah satu lagu yang menjadi favoritku dan dia yang kebetulan terputar. Genggaman tangannya selalu berhasil melebur diriku untuk lari dan pergi seketika dari Rino.

Sejauh apapun aku hendak pergi, Rino selalu memiliki alasan membawaku kembali. Dia tidak mengikatku sampai dengan detik ini, mungkin perasaanku sudah ditebak jauh-jauh hari dari mata pria yang tak pernah bisa kuasingkan dari kehidupan. Bagaimana bisa aku lepas, jika ia tidak pernah mendapat garis buruk sebuah penilaian. Ia terlalu sempurna kali ini, dan aku selalu payah dihadapannya.

Rino hadir dengan pesan-pesan singkat yang menandakan ia masih perduli, aku selalu dibuat positif berkat sikapnya yang sempurna, semakin tidak memiliki wilayah berhenti dengan alasan yang tepat. Bagaimana aku masih bisa bertahan sebaik ini Tuhan. Tidak bisakah engkau memberikannya sebagai rumah dengan fasilitas yang sebenarnya tidak pantas aku dapatkan. Permainan fisik selalu curang membawaku sadar dan berjalan mundur. Namun perasaan ini menyiksa seperti luka yang di sobek sobek jika aku tak bisa bersamanya. Turunkan saja rasa ikhlas itu Tuhan, sudah cukup menyiksaku dengan tanda tanya yang tak pernah terjawab. Atau sebenarnya jawaban itu sudah ada hanya aku yang terlalu menginginkan perubahan di atas jawaban yang telah diberikan.

Sudah hampir satu bulan, hitungan singkat namun banyak bekasnya. Kali ini kami harus berpisah beberapa hari. Tingkat komunikasi yang menurun, dan pertemuan yang ditunda. Ia memberikan kabar itu seakan-akan aku adalah hal penting di hidupnya. Posisi ini menyebalkan memberi angan-angan tinggi yang tidak pasti akan jatuh atau memang akan tetap berada di angkasa sebagai angan-angan yang indah. Kadang hidup di mimpi lebih menyenangkan daripada menerima realita yang selalu saja bentrok tak bersepakat.

“aku pinjam leptop yah, sekalian kita ketemu”

Pesan Rino membungkus hatiku begitu hangat, bagaimana pria ini selembut kain sutra, bisa-bisanya benteng yang sudah dibuat dengan tingkat kekuatan tertinggi mampu runtuh dan kembali pada pelukannya.

“ya udah, kabarin kalau udah mau kesini”

“Oke”

Setelah pertemuan terakhir ini, aku hanya bisa berharap tidak ada gerimis atau badai yang mengacaukan. Pilihan membawaku menjadi egois, membiarkan jawaban belum terjamah dan memilih tinggal di luar rumahnya. Jika diteruskan aku paham bahwa disuatu titik semua berakhir akan ada luka parah yang tak bisa disembuhkan.

“lalu apalagi aku tidak punya jalan, berhenti membuatku sakit, lanjut? Sama saja ah sial!!!!!!!!!!”

Jika suatu hari aku hilang dari radarmu, percayalah Tuhan sedang memberi ruang aku untuk menikmati sedih, dipermainkan luka, dan mencoba sembuh dari luka sendiri.

***

Hari-hari menjadi seperti biasanya, tapi perdebatan masih saja hidup di isi kepala dan hati seorang wanita biasa ini. Memikirkan bentuk terburuk apa yang akan ia hadapi setelah ini. Namun ia tetap bersikeras menjernihkan perasaan untuk tidak kalut terlalu lama, sebisa mungkin mengerjakan hal-hal yang bermanfaat dan menjauh sejenak dari bayang-bayang tubuh Rino.

“aku masih gemetar menanti kenyataan yang tak seimbang, sudah tahu jawaban namun memaksa meminta sesuai harapan. Apalagi jika bukan daya ego keras ini. “

Setelah dua hari, akhirnya pria itu memberi kabar untuk mengembalikan leptop yang baru saja ia pinjam beberapa hari lalu. Seperti disepakati Tuhan aku masih mengambil dengan hati yang tentram dan damai. Ia pun masih menjadi pria idaman seluruh wanita yang di tengah kesibukannya masih memiliki waktu untuk memberiku tumpangan menyelesaikan urusan studiku.

Bagaimana tidak luluh jika ia terus menarik ulur seperti tali yang ketika butuh ia tarik, ketika tidak maka ia hanya mengulur tanpa melepaskan. Padahal sudah berulang kali aku mengisyaratkan mau apa dengan hubungan ini, namun ia hanya bertahan dengan ikuti saja alurnya. Dan akupun masih begitu payah mengambil langkah terjauh meninggalkannya secara tiba-tiba jika rekam jejaknya masih belum buruk.

Kini aku kembali ke rumah, begitupun dia. Hujan seakan memberi isyarat untuk mendengarkan playlist lagu favorit melalui leptop yang sudah beberapa hari ini tidak berada di genggamanku. Memberi sedikit daya dan membukanya.

Aku gemetar, ketika menyaksikan layar masih terkoneksi dengan beberapa sosial medianya. Pikiran ini sungguh terlalu banyak picik, jika di hadapanmu saat ini adalah isi percakapan pria yang menjadi uring-uringan tidak jelas beberapa minggu. Seakan diberi jawaban dan rongga nafas mulai tidak beraturan, aku memilih tidak mencari luka lebih dalam. Sudah jelas daftar chat yang masuk hanya asrama putri, apabila diperdalam maka luka lebih tersobek jauh, tidak!!! Aku tidak boleh mencelakai hatiku lebih dalam.

Tuhan memberi jawaban tentang sosok Rino dengan begitu romantis, dan sedikit dramatis. Aku pun menyabarkan seluruh saraf yang menegang parah ketika melihat dari luar saja sudah menyakitkan, apalagi jika ku telusuri lebih dalam. Sudah benar dugaanku tidak mungkin pria semanis dan sepintar dia meluluhkan hati wanita hanya akan membiarkan satu wanita hidup. Tidakkkk! Ia tidak sebaik itu. Kini menafsirkan perasaannya aku sungguh lelah dan semakin tidak bisa dipertahankan.

Satu kata yang semakin memperjelas, bahwa ia tak hanya memberi kabar itu untukku melainkan beberapa wanita diperlakukan sama seperti apa yang di perlakukannya kepadaku. Ah sialnya aku sudah terlanjur ingin hidup di rumahnya. Perasaan sialan bukan? Tolong kenapa harus sekejam ini, jika tidak ingin mengikat harusnya dari awal jangan melebih. Hatiku bukan tulisan word yang jika di hapus tidak meninggalkan bekas.

Sebaiknya aku pergi!!!!, untuk kamu yang hanya sebatas singgah dan tak sungguh. (TAMU)

Dengan sisa keberanian yang masih berpegang teguh pada pendirianku kali ini, pertemuan harus segera terlaksanakan. Aku tak boleh lemah, ini harus diperjelas jika tidak semua akan terjalin dengan tidak ada ujung dan masa depan yang jelas. Bahkan aku tak boleh menyimpan rasa cemburu terlalu berat padanya jika yang aku terima sekarang hanya hubungan tidak jelas.

“Rino, ketemu bisa gak?”

Sebuah pesan benar-benar melayang padanya hari ini juga. Tak butuh waktu lama, notifikasi muncul sebagai tanda balasan darinya

“bisa, tapi besok yah! Sekarang aku masih ada acara nih”

Kabar terbaru Rino membuat kami berdua menyepakati pertemuan di hari esok.

***

Setelah semua suara dan segala dimensi persekutuan berkecamuk menjerit menyiapkan segala bentuk keberanian dan pertanyaan atas hubungan yang terjadi saat ini.

Pukul 22.00 malam, sebuah mobil terparkir tepat di depan rumah. Kali ini aku benar-benar telah matang untuk membahas semua yang rumit dan menyiksa ini.

Aku pun masuk di dalam mobil, melihatnya sebagai satu-satunya yang teduh dan menggembirakan. Sesampainya aku pun berencana melemparkan sederet pertanyaan. Namun pria ini sekali lagi berhasil, aturan yang kukemas dengan begitu baik dan sempurna tak sampai padanya. Langkah tangan dan pelukannya sangat mengejutkan. Aku seperti telah terikat, membuat situasi berubah untuk berdebat saja aku sudah tidak bisa. Rino sesungguhnya apa yang kamu perbuat, jangan memusingkanku begini.

“gimana udah sehat?”

Sebuah tangan mendarat pada dahiku sambil memberi isyarat hangat yang hampir tak menyadarkanku.

“udah kok, Cuma sampe tadi sore aja demam, pas malam udah enakan”

Rino tahu beberapa hari ini aku mengalami demam tinggi hingga mencapai tingkat halusinasi terparah. Bahkan ia memberi nafas-nafas perhatian yang dibungkus dengan manis sebagai seseorang yang sedang mengisi peran memberi kasih sayang.

“syukurlah”

Dijadikannya pelukan sebagai keserakahan yang mengepung diriku untuk tidak merusak suasana ini. Tapi aku benar-benar tidak tahan dengan ini semua. Rino tidak kunjung memberi kepastian, bahkan setelah gugatan yang kuberi padanya ia pun tidak membiarkanku pergi saja.

“Rino, “

“Hmmm kenapa”

“ kita ini apa?”

Akhirnya setelah melalui perdebatan panjang, aku melunasi hutang yang ku buat dari tadi untuk menyatakan niat tentang hubungan ini.

“ya begini,”

“kaya kupu-kupu?, kamu terbang bebas kemanapun dan tidak mau terkurung?”

“kan kita pencetusnya”

“Rino plis deh,”

Tidak ada kepastian, Rino tetap sama. Menjadikan semua bahasa keberanianku sebagai bercandaan dan tidak ingin menanggapi secara serius.

“Rino!!! “

Sungguh nadaku mulai meninggi padanya, ledakan itu sedikit lagi menggemuruh jika tidak lekas diijabah olehnya.

Namun lagi-lagi Rino menyerangku dengan pelukan dan kecupan di kening. Bara api yang tadinya akan pecah dan mengancam suasana kini diseret gerimis hingga hujan yang sampai mendinginkan.

“udah ah, aku gak mau ribet. Kita tetap gini”

Apakah kamu tau Rino, dalam pelukmu batinku menjerit membiarkan memeram luka sebagai rahasia yang harus kunikmati sendiri.

“ya udah kalau gitu aku yang mundur yah”

“kamu maju aja”

“mau kamu apa sih!!”

“maju mundur”

“Rinoooo, kalau maju-maju jangan maju dan mundur kaya gini”

“ya udah stuck disini aja gimana”

“egois sumpah!!!”

Setelah ini apalagi Rino, aku benar-benar tak sanggup dipermainkan perasaan sendiri. Kadang marah jika tidak jelas seperti ini, kadang merasa terlalu senang saat kamu memberi sebagian waktu hanya untukku.

Aku lelah,

Esok jika dipertemukan kembali, mudah-mudahan memori hanya lekat dan perasaan tidak harus diulang. Biarlah luka kupeluk sendiri, tidak perlu dibahas dan diperdalam. Kamu tidak memberi kata pasti dan jika tidak sekarang aku pergi, bertahan denganmu hanya membuang-buang waktu.

Dengan akhir terberat kami berpisah tanpa pesan dan tersisa angan. Kepergian Rino jauh dari kota ini membuat pikiranku dibanting sesegera mungkin dan sebisa mungkin lepas dari angan-angannya. Rino dan aku tak lebih dari sekadar tamu yang memilih singgah lalu pergi dengan jejak-jejak terberat menyiksa hampir seluruh isi kota yang ku habiskan dengannya menikmati pagi, sore bahkan malam.

(Besambung…)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *