Winnet, Gorontalo – Ketua Partai Demokrat, Erwin Ismail, berbicara mengenai dinamika perubahan koalisi yang terjadi di DPRD Provinsi Gorontalo, khususnya terkait pembentukan fraksi Denura (Demokrat-Hanura). Dalam rapat paripurna ke-2 yang digelar pada Rabu (2/10/2024), keputusan Hanura untuk meninggalkan koalisi dengan PAN dan PKB, dan berkoalisi dengan Demokrat, memicu perdebatan panas di kalangan anggota DPRD.
Erwin menjelaskan bahwa konsolidasi politik sebenarnya sudah berlangsung sejak Maret 2024, usai pemilihan. Namun, terjadi perubahan signifikan pasca Pemungutan Suara Ulang (PSU), yang akhirnya mengubah dinamika politik di tingkat legislatif.
“Sebenarnya konsolidasi ini sudah dilakukan sejak Maret 2024 setelah pemilihan. Namun semuanya buyar itu pada saat PSU. Begitu PSU berubah orang, berubah ini, akhirnya berubah juga kebijakan,” ungkap Erwin Ismail.
Ia juga mengungkapkan bahwa Demokrat telah bersepakat dengan beberapa partai sebelumnya, namun keadaan berubah setelah PSU dan beberapa partai lain memilih jalur berbeda. Erwin menegaskan bahwa Demokrat tidak punya banyak pilihan mengingat mereka hanya memiliki tiga kursi di DPRD.
“Kita Demokrat ini cuma tiga kursi. Kita harus bergabung. Tiba-tiba sudah paripurna dan ternyata memang kita ditinggalkan oleh kesepakatan-kesepakatan yang sebelumnya,” katanya.
Terkait keputusan koalisi dengan Hanura, Erwin menjelaskan bahwa hubungan antara Partai Demokrat dan Partai Hanura sudah berjalan baik selama lima tahun terakhir. Hanura, menurutnya, tidak pernah mengalami gesekan politik dengan Demokrat dan selalu solid dalam bekerja sama. Oleh karena itu, koalisi ini dianggap sebagai langkah strategis untuk menjaga hubungan baik dan melanjutkan kebersamaan dalam legislatif.

“Sejak awal, Hanura memang bersama dengan saya. Tapi tiba-tiba di deklarasi itu, saya gak dilibatkan. Hanura pun merasa, kalau saya di luar, berarti mereka seperti meninggalkan saya,” jelas Erwin, menegaskan pentingnya menjaga koalisi yang sudah terjalin.
Selain itu, Erwin menyebut bahwa dinamika politik di DPRD Gorontalo adalah sesuatu yang wajar dan merupakan bagian dari proses demokrasi.
“Di politik tidak ada teman abadi, tidak ada lawan abadi. Semua bisa dinamis sesuai dengan tujuan bersama kita,” tambahnya.
Erwin berharap dengan terbentuknya Fraksi Denura, mereka dapat bekerja sama lebih efektif di parlemen, meski diakui bahwa proses lobi-lobi politik dalam pembentukan fraksi ini cukup menantang.

















