Tajuk: Obrolan Kedai Kopi, “Mengapa Mereka Masih Harus Kampanye”
Penulis: Alim Paki
WINNET.ID, Provinsi Gorontalo – Tajuk kali ini berangkat dari obrolan sejumlah generasi Milenial dan generasi Zee kota Gorontalo dari berbagai berlatar belakang, yang mencoba untuk tidak buta terhadap peta politik menjelang pemilu 2024 mendatang.
Puncak pembicaraan ini menghadirkan pertanyaan tajam: “Mengapa Mereka Masih Harus Kampanye?”
Mengapa Mereka Masih Harus Kampanye?
Pertanyaan besar ini menyasar pada beberapa tokoh berpengaruh Provinsi Gorontalo, sekelas AW. Thalib, Adhan Dambea, dan Meyke Camaru, yang dianggap tak perlu lagi kampanye berkat kredibilitas dan dedikasi mereka yang telah teruji.
Ketiganya dapat dianggap sebagai (salah tiga dari 45) ujung tombak DPRD Provinsi Gorontalo yang masih sangat diharapkan oleh masyarakat untuk terus berkarya di gedung legislatif Provinsi Gorontalo, tidak hanya saat ini, tetapi juga di masa yang akan datang.
AW. Thalib, seorang politisi dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang dikenal dengan pemahamannya tentang ilmu pemerintahan, menjadi kekuatan utama yang masih sangat dibutuhkan masyarakat untuk mengawal pelaksanaan pemerintahan melalui DPRD, didukung oleh pengalamannya yang pernah menduduki kursi eksekutif.
Adhan Dambea, politisi dari Partai Amanat Nasional (PAN), disebut-sebut sebagai figur serupa dengan Rocky Gerung di Gorontalo.
Seorang tokoh yang tanpa lelah mengkritik pemerintah jika dianggap lalai atau keluar jalur dalam menjalankan tugas pemerintahan.
Suara lantang Adhan Dambea menjadi kebutuhan masyarakat untuk mewakili suara rintihan mereka yang seringkali terabaikan oleh pengambil kebijakan.
Meyke Camaru, Srikandi dari Partai Golkar, dianggap sebagai figur yang paling autentik mewakili peran perempuan di lembaga legislatif. Bahkan, dia dianggap sebagai simbol kekuatan nyata emansipasi perempuan di Gorontalo.
Program-program pro perempuan yang selalu dilakukannya, menempatkan dia sebagai (salah satu) perempuan yang paling berpengaruh di Gorontalo.
Mengapa Mereka Masih Harus Kampanye?
Toh, Meski tanpa melibatkan proses kampanye, mereka masih dipercayai masyarakat, dan akan tetap dipilih kembali berkat kredibilitas yang telah terbukti. Posisi mereka telah melekat erat dan tak tergantikan di hati masyarakat Kota Gorontalo.
Meski peserta diskusi mengakui pandangan mereka itu tanpa landasan yang kuat, namun argumen demi argumen tetap menyelubungi topik yang semakin malam, semakin kompleks.
Generasi muda, yang mengidolakan figur yang dibicarakan ini, berusaha memahami esensi kampanye secara menyeluruh.
Beberapa pandangan menilai (mungkin) bagi mereka kampanye hanya sebagai ritual formalitas semata. (Mungkin) bagi mereka hanya sebuah pelengkap seremoni demokrasi.
Suara-suara skeptis yang berkembang di dalam kelompok diskusi, semakin memperbesar tanda tanya tentang esensi dari seluruh proses kampanye politik bagi ketiga figur tersebut.
Menjawab rasa penasaran ini, penulis yang juga menjadi bagian dari kelompok diskusi berkesempatan berdialog santai dengan salah satu tokoh yang menjadi pemeran utama topik diskusi, bapak AW. Thalib.
Mengapa Mereka Masih Harus Kampanye?
Jika dilihat dari kualitasnya, tentunya, pertanyaan “dungu” penulis, bukanlah hal yang penting untuk dijawab. Namun seperti dugaan pembaca, AW. Thalib dengan penuh kebijaksanaan menjawabnya.
Dari sikap ini, AW Thalib ingin menunjukkan bahwa setiap pertanyaan, meski tampak sepele, ditetap penting untuk direspons dengan serius.
Mengapa Kami Masih Harus Kampanye?
“Secara prinsip, kampanye bertujuan untuk menjalin silaturahmi dengan warga yang sudah mengenal kami, sekaligus memperluas jejaring dan hubungan keakraban dengan mereka yang mungkin belum sepenuhnya familiar dengan kami,” ungkap AW. Thalib.
Meski diakuinya bahwa sambungan emosional dengan masyarakat dapat terjadi kapan saja, tanpa terikat waktu tertentu, namun ia menegaskan bahwa silaturahmi dalam konteks kampanye memiliki dimensi tersendiri, diwarnai oleh nuansa yang hanya muncul setiap lima tahun sekali.
Mengapa Kami Masih Harus Kampanye?
“Selain memenuhi kerinduan terhadap masyarakat pemilih, kami juga melibatkan diri dalam berbagai kegiatan politik yang mencakup penyampaian visi, misi, dan target untuk lima tahun ke depan ketika terpilih (lagi),” ungkap AW. Thalib.,” ungkap AW. Thalib.
Kampanye juga menjadi sebuah penegasan eksistensi figur-figur yang memang sudah mencolok dari segi pengalaman, integritas dan kredibilitasnya seperti AW. Thalib, yang ingin memberitahukan bahwa mereka masih maju (lagi) dalam kontestasi politik 2024 mendatang.
“Dalam konteks silaturahmi ini, kami juga ingin menegaskan dan menyampaikan kepada masyarakat bahwa kami masih akan mencalonkan diri atau maju (lagi) sebagai anggota legislatif. Itu esensi utamanya,” tegas AW Thalib.
“Dan kampanye ini juga bukan semata untuk diri pribadi kami. Dalam kampanye juga kami membawa muatan tentang visi misi partai kedepan, termasuk didalamnya memperkenalkan figur lain, teman-teman calon lain, untuk menjadi rekomendasi lain kepada masyarakat,” sambung mantan Sekda Kota Gorontalo itu.
Yah, benar! Anda tidak salah baca dan kamipun tidak salah mengetik. Demikian jawaban lugas dan tegas dari AW. Thalib.
“Membawa dan memperkenalkan figur lain untuk jadi rekomendasi pilihan rakyat,”
Sampai dititik itu, sikap profesional yang tertanam dalam diri Politisi yang pernah menapaki karir di gedung Parlemen RI itu.
Berbeda dengan sebagian politisi yang cenderung memilih jalan egois karena alasan persaingan, AW Thalib malah mengambil sikap berkebalikan. Memilih untuk tetap terlibat dalam politik yang bisa jadi menjadi saingannya.
“Sebab dalam dunia politik, tidak mengenal lawan dan kawan. Yang ada hanya (terbukanya kemungkinan) kawan menjadi lawan, atau lawan yang menjadi kawan”
Namun mungkin istilah itu tidak berlaku bagi AW. Thalib. Ia tetap memberikan peluang dan proporsi yang sama kepada figur lain, terutama politisi muda (dibaca: baru), agar dapat berperan aktif dalam kontestasi politik lima tahunan ini.
Sikap ini menurut penulis, mencerminkan tingkat profesionalisme yang seharusnya dimiliki oleh seorang calon pemimpin, terutama untuk masa depan kepemimpinan daerah Gorontalo, yang lebih cerah.
“Pertanyaan besar baru, muncul (lagi)”
Apakah bapak AW. Thalib memiliki keinginan untuk maju pada Pilkada November tahun 2024 mendatang?
Bersambung…



















