banner 728x250

Festival Ditengah Krisis Ekonomi: Pemerintah Kota Gorontalo Tidak Punya Otak!

banner 120x600
banner 468x60

Winnet.id, Kota Gorontalo – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Gorontalo, dapil Kota Gorontalo, Adhan Dambea, memberikan kritik tajam terhadap pemerintah kota Gorontalo, yang dinilainya, menyiratkan ketidakmampuan berpikir logis.

“Pemerintah kota Gorontalo tidak punya otak!” tegas Adhan, saat diwawancarai diruangannya, di kantor DPRD Provinsi Gorontalo.

Komentar pedas ini datang sebagai tanggapan terhadap rencana pemerintah kota untuk menggelar Festival Kota Tua, dengan anggaran sekitar Rp. 750 juta, ditengah krisis ekonomi yang melanda warga kota Gorontalo, serta kondisi fiskal dan pendapatan daerah yang juga sedang dalam kondisi memprihatinkan.

“Jika pemerintah memiliki otak, mereka akan memberikan prioritas pada kegiatan yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Rakyat kami sedang berjuang, namun mereka malah mengadakan acara dengan anggaran fantastis, yang tujuannya tidak tahu untuk apa,” ujar Adhan.

Adhan Dambea
Politisi Senior Kota Gorontalo, sampaikan Kritikan pedas terhadap Pemda Kota Gorontalo terkait rencana pelaksanaan kegiatan festival Kota Tua.

“Mereka bahkan belum membayar honor, petugas RT/RW, guru guru ngaji dan lain-lain karena alasan minim anggaran, eh! Mereka justru mengadakan Festival Kota Tua, yang tidak jelas manfaatnya,” lanjutnya.

Adhan menilai bahwa dalam situasi ini, pemerintah kota cenderung menghambur-hamburkan dana untuk kegiatan yang tidak esensial daripada memperhatikan kesejahteraan warganya.

Baca juga: Geram! Adhan Dambea Kritik Keras Kebiasaan Buruk DPRD Gorontalo

Lebih tajam lagi, politikus dari partai PAN ini menilai Walikota Gorontalo, Marten Taha, tampak puas dengan pemborosan dana publik untuk tujuan yang tidak produktif. Bahkan Adhan menilai, menjelang berakhirnya masa jabatannya, Walikota tampak sengaja bermaksud meninggalkan warisan kemunduran dan kehancuran untuk pemerintahan berikutnya.

“Bukti nyata bisa dilihat pada dana Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), yang pada dasarnya adalah pinjaman. Sekarang, program-program mereka hancur berantakan. Pembangunan Jalan Pajaitan telah dihentikan berkali-kali. Pengembangan kawasan Kota Tua yang tidak lain Kawasan pertokoan, juga tidak jelas penyelesaian pembangunannya?” ujar Adhan, kesal.

“Bukan fokus menyelesaikan pembangunan, mereka justru berencana mengadakan Festival Kota Tua di lokasi yang progres pembangunan sampai saat ini tidak jelas penyelesaiannya kapan dengan anggaran Rp. 750 juta, ditengah memburuknya kondisi ekonomi. (004/ilam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *