banner 728x250

Tajuk: Mahasiswa UMGo Buktikan, Muhammadiyah Tidak Alergi dengan Budaya Lokal (Tradisi Dikili)

banner 120x600
banner 468x60

Penulis: Alim Paki


Winnet.id, Tolinggula Tengah Dikili adalah suatu tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Gorontalo mengiringi upacara Maulidan (peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW) setiap bulan Rabiul Awal menurut perhitungan tahun Hijriah. Tradisi ini mengandung makna yang mendalam dan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya dan keislaman masyarakat Gorontalo.

Dalam tradisi ini, naskah yang ditulis tangan dalam bentuk ungkapan dan kisah ditampilkan melalui sajak berirama, dengan bahasa yang bervariasi, termasuk bahasa Arab, bahasa Indonesia, dan bahasa daerah Gorontalo. Isi naskah terdiri atas dua bentuk, yaitu bentuk puisi dan bentuk prosa (cerita).

Tradisi Dikili bukanlah suatu yang baru bagi masyarakat Gorontalo. Sejak zaman dahulu, tradisi ini telah menjadi bagian integral dari kehidupan mereka, khususnya bagi mereka yang termasuk kelompok Islam Nahdatul Ulama (NU), yang dakwahnya populer dengan ciri khas toleransinya terhadap tradisi-tradisi dan budaya yang ada di Indonesia.

Namun, baru-baru ini, ada hal yang sangat menarik terjadi di Desa Tolinggula Tengah, Kecamatan Tolinggula, Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo. Tradisi Dikili yang identik dengan NU, ternyata melibatkan mahasiswa Kuliah Kerja Dakwah (KKD) dari Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGo) sebagai salah satu panitia pelaksana kegiatan tersebut.

Mahasiswa UMGo
Mahasiswa UMGo berpartisipasi membantu panitia & perangkat desa mempersiapkan lokasi pelaksanaan kegiatan “Dikili“, dimesjid “Jami Tolinggula”.

Ini menjadi sesuatu yang mengundang decak kagum penulis, mengingat Muhammadiyah dan NU seringkali berbeda pendapat terkait pelaksanaan amaliyah kegiatan keislaman, akibat berbeda imam yang menjadi rujukan pelaksanaan ibadah dan amaliyah.

Muhammadiyah, sebagai organisasi dakwah yang juga populer di Indonesia, dikenal dengan upayanya untuk melakukan pemurnian Islam dari tradisi-tradisi yang dinilai menyesatkan ajaran murni Islam. Perbedaan pendekatan antara NU dan Muhammadiyah seringkali menjadi perdebatan di kalangan umat Islam di Indonesia.

Namun, yang patut diacungi jempol adalah partisipasi anak-anak mahasiswa UMGo dalam pelaksanaan tradisi Dikili. Mereka dengan tulus ingin menunjukkan bahwa Muhammadiyah tidaklah alergi terhadap budaya suatu daerah asalkan budaya tersebut tidak mengajarkan kesesatan terhadap ajaran umat Nabi Muhammad SAW.

Bagi mereka, perbedaan pelaksanaan amaliyah tidak seharusnya menjadikan perpecahan di antara umat Islam. Selama amal pelaksanaan ibadahnya masih sejalan dengan ajaran Rasulullah SAW., maka perbedaan pendapat terkait “amalan” seharusnya tidak menjadi halangan untuk bersatu dalam kebaikan.

Mahasiswa UMGo
Situasi saat mahasiswa menunggui & menemani panitias dan peserta Dikili saat larut malam, sambil minum teh.

Tradisi Dikili di Desa Tolinggula Tengah adalah contoh nyata bahwa perbedaan pendapat tidak selalu menghasilkan konflik. Mahasiswa UMGo telah memberikan contoh yang sangat berharga bagi seluruh umat Islam di Indonesia.

Mereka menunjukkan bahwa perbedaan pelaksanaan amaliyah atau kegiatan keislaman tidak menjadikan mereka berbeda dengan umat Muslim yang lain. Selama amal pelaksanaan ibadahnya masih sejalan dengan ajaran Rasulullah SAW., yaitu tidak mempersekutukan Allah dengan yang lain, yang menjadi dasar akidah Umat Islam.

Sebagai umat Islam, kita dapat belajar banyak dari tradisi Dikili dan partisipasi mahasiswa UMGo dalam kegiatan tersebut. Kita dapat merayakan keberagaman budaya dan bahasa dalam semangat toleransi dan persatuan. Semoga tradisi ini terus dilestarikan dan menjadi inspirasi bagi kita semua. (004/ilam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *