banner 728x250

Petani Sawah di Bone Bolango Terancam Gagal Panen: Irwan Mamesah Tawarkan Solusi Kepada Pemerintah

banner 120x600
banner 468x60

Winnet.id, Bone BolangoKekeringan lahan sawah di Bone Bolango menjadi masalah serius yang mengancam hasil panen petani di wilayah tersebut. Dampak musim kemarau berkepanjangan akibat dampak badai El-Nino di Provinsi Gorontalo, telah memberikan tekanan signifikan pada pertanian lokal.

Anggota DPRD Provinsi Gorontalo dari dapil Bone Bolango, Irwan Mamesah, angkat bicara tentang kondisi ini. Melalui sambungan telpon, kepada tim rerdaksi winnet.id, Irwan menguraikan urgensi penanganan kekeringan dan tawaran solusi yang sedianya dapat diambil pemerintah daerah.

Dalam pengamatan langsungnya, Irwan Mamesah menyaksikan dampak kekeringan ekstrem di wilayah pertanian sawah Bone Bolango. Beberapa petani setempat juga sempat mengeluhkan kepadanya tentang tantangan serius dampak musim kemarau yang berkepanjangan, yang secara signifikan mempengaruhi kondisi tanah dan tanaman persawahan.

“Kekeringan ini, jika tidak segera ditangani, akan berujung pada gagal panen dalam satu minggu ke depan.” tegas Irwan, dalam percakapan.

Oleh sebab itu, Irwan meminta pemerintah, khususnya kepada Gubernur Provinsi Gorontalo, untuk segera mengambil tindakan preventif, dalam rangka mengantisipasi gagal panen secara menyeluruh.

“Saya sadari, memang tidak sepenuhnya dapat mengatasi masalah secara 100%, akan tetapi kita perlu tindakan preventif yang terukur, guna mengantisipasi gagal panen secara total.” Ujarnya.

Baca juga: ARUM BPKB Pegadaian Syariah: Fidusia Bebas Riba

Salah satu usulan defensif Irwan adalah menyediakan bantuan berupa alat Alkon atau mesin penyedot air kepada petani. Alat ini dinilainya, akan membantu petani untuk mengalirkan air ke persawahan. Sementara diwilayah yang mengalami kekeringan pada saluran irigasi sawah, Irwan mendesak Pemerintah untuk memberikan bantuan sumur bor atau suntik.

“Kemarin itu saya sudah mengajukan kepada Dinas Pertanian untuk meminjam alat Alkon. Akan tetapi, alat tersebut tidak tersedia. Entah memang tidak tersedia, atau tidak cukup karena dipinjamkan kepada kelompok tani yang ada daerah lain yang ada di Gorontalo.” ungkap Politisi Partai PKS ini.

Petani
(sumber foto: Gopos.id/google) Anggota DPRD Provinsi Gorontalo, dapil Bone Bolango, Irwan Mamesah

Menyikapi ketidak-tersediaan alsintan ini, Irwan menyarankan kepada pemerintah untuk menyediakan alat Alkon dan sumur bor/suntik, melalui anggaran Biaya Tidak Terduga (BTT), yang sepengetahuannya bernilai sekitar Rp. 5 miliar.

Baca juga: Jambore Satlinmas Gorontalo: Pencegahan Dini Resiko Bencana Alam Saat Kemarau Panjang

Selain tindakan preventif, Irwan juga mengusulkan langkah-langkah jangka panjang. Salah satunya adalah mengasuransikan lahan pertanian. Ini akan membantu melindungi ekonomi petani jika terjadi gagal panen.

“Saya rasa, pemerintah Daerah pernah melakukan itu. Pemerintah pernah bekerja sama dengan salah satu asuransi yang ada di Gorontalo yang memiliki program asuransi untuk mendalangi jika terjadi gagal panen. Program ini tolong dijalankan kembali oleh pemerintah.” Kata Irwan.

“Asuransi ini setidaknya menjadi salah satu antisipasi dalam rangka menjaga stabilisasi ekonomi masyarakat pasca gagal panen.” sambung Irwan lagi.

Adapun skema pembayaran iuran asuransi, Irwan menyarankan pembayaran dapat dilakukan secara mandiri oleh petani, atau ditanggulangi langsung oleh pemerintah, baik dalam bentuk subsidi atau bantuan langsung. Hal ini dinilainya, akan membantu masyarakat petani untuk lebih siap dalam menghadapi kemungkinan terburuk gagal panen.

Jika menilik lebih jauh, apa yang disampaikan dan sarankan Irwan Mamesah ini sejalan dengan target pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, khususnya terkait stabilisasi ketahanan dan harga pangan.

Saat ini harga beras dipasaran mencapai angka Rp. 12.000 per kilogram, atau lebih dari 700.000 per Koli (50 kologram). Padahal kondisi saat ini belum mengalami gagal panen. Bisa dibayangkan apabila di Provinsi Gorontalo benar-benar terjadi gagal panen secara menyeluruh, maka bisa dipastikan harga beras juga akan melonjak naik, dan stabisasi ketahanan pangan pun dipastikan terganggu. (004)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *