WINNET.ID GOROTALO –Â Anggota DPRD Provinsi Gorontalo, Yuriko Kamaru, mengeluarkan sanggahan dan kritikan terhadap laporan pertanggungjawaban kepemimpinan gubernur terkait dengan sektor pertanian di Provinsi Gorontalo pada tahun 2023.
Dalam keterangannya, Yuriko menyatakan keberatannya terhadap klaim peningkatan yang diungkapkan dalam Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) gubernur, dalam Paripurna, Senin (04/03/23), kemarin.
Menurut Yuriko, pertanyaan mendasar muncul terkait dengan kebijakan pemerintah terhadap kelangkaan pupuk yang dialami oleh para petani di tahun 2023, dapat menjadi kontradiktif dan saling bertolak belakang dengan laporan yang disampaikan gubernur.
“Pemerintah tidak dapat menyelesaikan persoalan mendasar ini, sehingga rekapitulasi data dan perhitungan tentang peningkatan di dalam sektor pertanian ini kami pertanyakan,” ujar Yuriko.
Sanggahan lebih lanjut mencuatkan pertanyaan kritis mengenai validitas data yang diungkap dalam LKPJ tersebut. Yuriko mempertanyakan apakah peningkatan yang diakui berdasarkan data yang berasal dari masyarakat di tingkat bawah atau hanya sekadar angka-angka tanpa landasan fakta yang kuat.

“Kami juga ingin mengetahui langkah konkret apa yang diambil dalam landasan statistik untuk menyatakan bahwa sektor pertanian merupakan prioritas pemerintah provinsi Gorontalo. Namun, kita melihat masalah mendasar terkait kelangkaan pupuk tidak teratasi,” tegas Yuriko.
“Kami menilai adanya ketidaksesuaian antara data yang disajikan dengan kondisi sebenarnya di lapangan. Banyak masyarakat petani di tahun 2023 mengeluhkan kelangkaan dan kenaikan harga kebutuhan pertanian, khususnya pupuk,” tambahnya.
Dalam menyampaikan sanggahannya, Yuriko berharap untuk memperoleh informasi lebih lanjut yang dapat menjelaskan alasan pemerintah provinsi Gorontalo menyimpulkan adanya peningkatan di sektor pertanian.
“Kami berharap data ini dapat memberikan pemahaman yang lebih baik, karena saat ini terdapat perbedaan pandangan antara data yang diumumkan dan fakta yang dihadapi oleh masyarakat petani di lapangan,” pungkas Yuriko Kamaru.

















