banner 728x250

Gadis Bolmut Rela Jual Ginjal Demi Pembangunan Jembatan Goyo

Gadis Bolmut Rela Jual Ginjal Demi Pembangunan Jembatan Goyo
Gadis Bolmut Rela Jual Ginjal Demi Pembangunan Jembatan Goyo
banner 120x600
banner 468x60

WINNET.ID, BOLMUT – Cerita pilu seorng gadis yang tinggal di Daerah transmigrasi Goyo Desa Ollot 2, Kecamatan Bolangitang Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut)  rela menjual ginjal demi pembangunan jembatan Goyo yang sudah mangkrak 16 tahun, minggu (8/05/2022).

 

banner 300x250

Informasi yang di rangkum media Winnet.id seorang gadis yang akan menjual ginjal demi membangun jembatan tengah viral di Bolmut yang juga di posting di akun Facebooknya sendiri, sementara itu telah diketahui bahwa jembatan yang menghubungkan Daerah Transmigrasi Goyo tersebut sudah lama terbengkalai atau kurang lebih 16 tahun, hanya berdiri dua tiang penyangga dari awal pembangunannya hingga sekarang.

 

Selain itu, masyarakat yang keluar masuk Daerah transmigrasi Goyo masih mengandalkan rakit (bambu) yang diikat sedemikian rupa) untuk menyeberangi sungai yang kurang lebih lebarnya mencapai 50 meter.

 

Terkait dengan hal tersebut saat dikonfirmasi Alin Pangalima mengungkapkan, langkah yang dilakukannya untuk menjual organ tubuh (ginjal) semata-mata demi pembangunan jembatan yang menghubungkan tempat tinggalnya Daerah transmigrasi Goyo dan dihuni 70 Kepala keluarga.

 

“Langka yang saya ambil untuk jual ginjal untuk membangun jembatan yang belum selesai pembangunannya sudah 16 tahun, dan mungkin dengan cara ini jembatannya bisa selesai, karena masyarakat transmigrasi sekitar 70 KK setiap hari melewati sungai dengan menaiki rakit,”ujarnya.

 

Lebih lanjut, pihaknya dan dibantu sejumlah aktivis sudah bertahun-tahun berupaya menyatukan jembatan tersebut namun belum ada hasilnya.

 

“Saya juga lakukan upaya jual ginjal karena katanya untuk dana daerah tidak cukup membangun jembatan tersebut,”Alin.

 

Untuk itu, Alin berharap dengan upayanya ini pemerintah daerah bisa memperhatikan daerah transmigrasi lebih khusus pembangunan jembatannya bisa di seriusi.

 

“Semoga Pemda tidak melihat Goyo dengan mata tertutup,”tutupnya.

 

Untuk diketahui bersama Alin Panglima merupakan salah satu Aktivis perempuan yang berasal dari Bolmut yang aktif studi di Kampus IAIN Gorontalo pada semester 8, dan ia juga seorang penulis buku.

 

Sampai saat ini Alin sudah menerbitkan 5 buah buku karyanya sendiri, buku yang pertama berjudul 1529, buku kedua Memori KPMIBU, ketiga Menulis Tak Sesulit Mencintai Dalam Diam, keempat Catatan Putih Si Hitam, dan terakhir buku berjudul GOYO.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *