Menu

Mode Gelap

Daerah WITA

Kental Manis Bukan Susu! Stop Konsumsi Kental Manis Pada Bayi dan Balita


					Kental Manis Bukan Susu! Stop Konsumsi Kental Manis Pada Bayi dan Balita Perbesar

Silahkan di Share Yach

winnet.id, Provinsi Gorontalo – Stunting, masalah pertumbuhan fisik dan perkembangan anak yang terhambat, adalah isu yang semakin mendapat perhatian di Indonesia. Kesadaran masyarakat tentang pentingnya pencegahan stunting telah meningkat, dan upaya untuk meningkatkan gizi pada 1000 hari pertama kehidupan anak terus ditingkatkan.

Stunting adalah masalah serius yang dapat berdampak jangka panjang pada generasi muda Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, kesadaran masyarakat tentang masalah ini telah meningkat, tetapi masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Pencegahan stunting adalah investasi dalam masa depan bangsa, terutama generasi emas Indonesia.

Pentingnya pencegahan stunting ini mencakup periode kritis 1000 hari pertama kehidupan anak, yang dimulai dari masa kehamilan hingga usia dua tahun. Selama periode ini, anak sangat rentan terhadap kekurangan gizi. Oleh karena itu, tindakan yang diambil selama periode ini memiliki dampak besar pada pertumbuhan dan perkembangan anak.

“Media memainkan peran penting dalam peningkatan kesadaran masyarakat tentang stunting dan pentingnya gizi yang baik. Artikel-artikel, siaran berita, dan kampanye penyuluhan dapat membantu menyebarkan informasi penting kepada masyarakat luas.” terang kepala dinas kesehatan Provinsi Gorontalo, Dr. dr Anang Otolowa, dalam konferensi pers, usai menjadi pembicara dalam kegiatan Orientasi Kader Gerakan ‘Aisyiyah Sehat (GRASS) dalam cegah stunting yang dikemas dalam tema “Penuh Gizi Ibu dan Balita Tanpa Kental Manis“, dengan Hastag #Kental Manis Bukan Susu#, yang bekerja sama dengan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI). (10/10/23)

Kental manis

Kadis kesehatan Provinsi Gorontalo, Dr. dr. Anang Otoluwa saat konferensi pers terkait upaya Pemda, PP Aisyiyah dan YAICI dalam memerangi paradigma masyarakat Gorontalo terkait kental manis yang dianggap susu,

“Selain itu, salah satu upaya yang patut dicontoh pemerintah diseluruh tingkat adalah peran ibu-ibu kader PP ‘Aisyah Gorontalo. Mereka telah berperan aktif dalam mengedukasi masyarakat tentang bahaya susu kental manis.” sambung dr. Anang.

Kental manis sering kali dianggap sebagai susu, menurut dr. Anang, hanya hanya didominasi oleh gula dengan sedikit manfaat gizi atau bahkan hampir tidak ada. Oleh karena itu, dirinya menghimbau masyarakat untuk menghidari mengkonsumsi kental manis dalam jumlah besar, apalagi menganggap kental manis sebagai susu penunjang kesehatan. Terlebih dianggap menjadi MPAsi pada bayi dan balita.

“Salah satu tantangan dalam pencegahan stunting adalah mengubah paradigma masyarakat terkait susu kental manis. Kebiasaan mengonsumsi susu kental manis sebagai pengganti ASI (MPAsi) adalah praktik yang perlu diubah. Kental manis bukanlah pengganti yang sehat, mengandung sedikit gizi, dan tinggi gula yang dapat merusak citra rasa anak-anak.” tegas dr. Anang.

Baca juga: Kental Manis Bukan Susu! PP Aisyiyah Bersama YAICI, Sosialisasikan dan Berupaya Ubah Kebiasaan Konsumsi Kental Manis Masyarakat Gorontalo

“Kental manis hanya toping pelengkap, bukan sebagai sumber gizi yang seimbang. Itupun tidak dianjurkan dikonsumsi dalam jumlah yang banyak.” sambungnya.

Melihat persentase angka stunting yang terbilang tinggi di Gorontalo, Pemerintah berencana akan mengambil langkah konkret untuk mengatasi masalah ini. Salah satunya adalah pengaturan sajian makanan jajanan, termasuk kadar gula, garam, dan lemak yang diberikan kepada anak-anak, termasuk mengawasi dan mengatur makanan jajanan, agar memenuhi standar gizi yang sehat.

“Saat ini, stunting di Provinsi Gorontalo telah mengalami penurunan dari 29% menjadi 23,8%. Namun, kami berharap ini bisa turun lagi hingga 14% pada tahun 2024 ini.” ungkap Kadis Kesehatan Provinsi Gorontalo ini.

Baca juga: Pasar Murah, Manaf: Membangun Kesejahteraan Masyarakat Berpenghasilan Rendah

Pencegahan stunting adalah tanggung jawab bersama masyarakat, pemerintah, dan media. Kesadaran masyarakat tentang stunting, peran penting 1000 hari pertama, serta dampak susu kental manis harus disosialisasikan secara luas. Masyarakat perlu memahami bahwa mengonsumsi makanan bergizi adalah kunci pertumbuhan dan perkembangan anak yang sehat.

Upaya yang telah dilakukan oleh Pemda Provinsi Gorontalo adalah contoh nyata bagaimana pemerintah daerah dapat berperan dalam mencegah stunting. Peraturan dan kampanye yang mendukung gizi seimbang harus terus ditingkatkan. #Kental Manis Bukan Susu#. (004)

Artikel ini telah dibaca 36 kali

badge-check

Jurnalis

Baca Lainnya

32 Mahasiswa Terapi Gigi UNUGo Antusias Mengikuti PKL di Manado: Panpel Tidak Disiplin Waktu!

19 Mei 2024 - 01:41 WITA

Ketua PJS Provinsi Gorontalo Kecam Ucapan Alyun Yang Memutarbalikan Fakta

17 Mei 2024 - 09:23 WITA

Oknum Kader Nasdem Perlihatkan Arogansinya Provokasi Masa saat Demo Dugaan Pelecehan Profesi Jurnalis

16 Mei 2024 - 09:31 WITA

Tim Pansus Aset DPRD Provinsi Gorontalo Menilai SOP Mitigasi Hukum Biro Hukum Masih Amburadul

15 Mei 2024 - 21:38 WITA

Pansus Temukan Banyak Aset Daerah Yang Belum Tercatat di KIB Daerah!

15 Mei 2024 - 12:39 WITA

Komisi 4 Desak SMA Wirabakti Meninggalkan Pola Asuh Militer

14 Mei 2024 - 15:54 WITA

Trending di Daerah