WINNET.ID
Cerita Pendek tentang Jansen Pria Kecil yang Manis dengan Penuh Harapan dan Doa
Dengung suara yang mulai sampai pada gendang telinganya menjelma menjadi sekantung penuh gerak, memapah penuh paksa untuk bertemu dengan beberapa makanan di atas meja. Secangkir susu hangat, roti selai coklat selalu menjadi wajib jika yang hadir di tempat duduk itu adalah anak kecil berbaju biru. Matanya berwarna abu-abu, melingkar indah di bagian bulatan tengah bola matanya. Kata ayah mata indah itu terbentuk dari seorang ibu yang membuatnya menatap dunia dengan manis hari ini. Namun ibu berpamitan padanya untuk pergi dua hari yang lalu meninggalkan pria kecil. Tangannya hangat melekat dan memberi sedikit usapan yang mendarat tepat di atas kepala pria kecil.
“makanlah Jasen”
Badai itu benar menghancurkan tanpa jeda, tidak memberi sedikit celah untuk bernafas panjang. Lukanya yang tergores tak menemui ruang untuk sembuh dalam waktu dekat ini. Kini hari-harinya tak lagi sama seperti biasanya, kepergian memang membuatnya menjadi semrawut sangat berantakan menghadapi kenyataan. Hal yang tak pernah ia lakukan kini harus ia lakukan. Mulai dari harus bangun pagi, memasak, hingga bersiap bekerja. Di umur Jasen yang begitu belia membuat Ashar selalu berpikir keras memberi semua kasih sayang tanpa terkecuali.
Belum habis Jasen melahap lengkap personil makanan, Ashar terpaksa pamit mengecup dahi, pipi kanan dan kiri lalu pelukan hangat kepada pria kecil itu. Tak ada senyum yang tercipta selain tatapan datar yang memilih menetap pada wajah tampan Jansen.
“Ayah pergi dulu ya nak, Jasen di rumah aja nanti Ayah pulang”
Sambil mengaduk semangkuk sereal Jansen mencoba memahami lahan kalimat yang ayahnya berikan. Benar saja pesan itu membawa pemahaman untuk Jasen lekas bermain dan melakukan apapun hanya di dalam rumah. Tanpa melihat keluar dan berjalan menemui teman-teman seumurannya. Pria kecil itu mengangguk, dengan umur lima tahun Jasen hanya mengerti bahwa ia harus berada disini saja, karena saat Ibu pulang ia akan diberi coklat hangat juga mainan baru karena menjadi anak pintar yang patuh terlebih pada aturan-aturan dari ayahnya.
Mobil-mobil kecil yang sengaja ia atur berderetan menggambarkan saat Ibu pergi kemarin, Jasen ingin mengendarainya dan membawa kembali Ibu pulang ke rumah. Tapi, mobilnya tak cukup besar seperti yang ia lihat. Mobil itu berwarna putih dengan sirine yang berbunyi kecil juga tenang. Jansen tak memiliki mobil dengan jenis seperti itu. Jasen kecil kembali duduk dan mulai berpikir bagaimana caranya Ibu bisa menemaninya bermain lagi seperti biasanya. Bagaimanapun usahanya memahami, batas Jasen hanya pada Ibu sedang dirawat untuk kesembuhan. Jasen tidak pernah memikirkan yang lebih mengerikan dari itu, semisal kepergian yang tidak akan kembali. Menurut Ibunya, setiap Jasen menggaris mimpi maka udara akan membantu menemui jalannya. Jasen masih pria kecil yang mengerti bahwa semua ungkapan Ibu adalah benar adanya.
“mungkin Ayah harus mencoba, supaya Ibu bisa pulang”
Jansen bergerak secepat mungkin mengambil semua pasukan robot untuk merapikan barisan dan siap mengirim harapan dan mimpi mereka untuk Ibu. Kertas berwarna putih bertuliskan “Ibu Pulanglah” terselip di setiap lengan robot-robot milik Jasen. Lagi lagi raganya tertahan ketika menyadari pria kecil tidak memiliki cara untuk menerbangkan semua ini, agar udara mampu mendorongnya menemui jalan. Jasen tau robotnya tidak memiliki kekuatan untuk terbang seperti pesawat remote control yang ada di lemari mainan. Akhirnya jam makan siang berdering, tandanya ia harus lekas bersiap duduk di meja makan menunggu Ayah pulang membawa semangkuk sereal kesukaannya.
Bau khas Ayah menyengat pada penciuman kuat Jasen, suara-suara langkah kaki berjalan cukup cepat melaju ke arahnya. Nampaknya ia tergesah-gesa karena beberapa jadwal bertabrakan dan semuanya sementara berada pada proses penyesuaian.
“Jasen Ayah Pulang, ini serealmu dan ini susumu habiskan yah. Ayah akan pulang sehabis magrib. Jangan kemana-mana tetap di dalam rumah mungkin bibi akan pergi ke sini sebentar sore”
“baik Ayah” Jansen menjawab dengan patuh, sambil mengunyah sereal nikmat rasa coklat dengan bau strobery yang selalu menjadi favorit Jasen.
Di ruang tamu, Jasen menyandarkan tubuh sambil memperhatikan langit-langit atap dipenuhi bintang-bintang buatan Ibu. Jika ruangan itu gelap, maka cahaya itu meledak memenuhi seluruh ruangan. Jasen tidak pernah khawatir jika hujan turun begitu lebat kala pagi hingga malam, sebab bintang yang selalu ia inginkan tidak pernah redup dan akan selalu ada.
Terlepas kenyamanan, rindu tetaplah rindu memeram luka sebagai rahasia yang entah kapan menjadi baris paling membahagiakan untuk sebuah temu.
Jasen berdiri, melangkah membuka pintu seperti pesan Ayah bibi datang sore hari ini.
“hay Jasen”
“halo bibi, Rafael mana?”
“ada itu di mobil sebentar lagi turun, Jasen sayang sudah makan?”
Sebagai pengganti, bibi memanglah menjadi peneduh kala Jasen menginginkan bertemu dan memeluk erat Ibunya. Wajah yang sangat mirip menjadikan Jasen terkadang salah dalam menyadari Ibu sedang pergi entah kapan kembali. Rafael sendiri merupakan kaka sepupu, ia lebih tua dari Jasen. Namun rasa sayang Rafa terhadap Jasen layaknya kaka beradik. Bibi memang sering ke rumah Jasen, terlebih saat dua hari kemarin. Jasen merasa banyak yang menyayanginya tapi tidak bisa lebih dari kasih sayang seorang Ibu.
“Jaseen”
Pria kecil bermata abu-abu itu tersenyum begitu lebar, rasanya sepi tidak akan mengusiknya terus-menerus. Rengkuhan tangan Rafa mengajak Jasen untuk masuk, bermain banyak hal terutama yang menjadi kesukaan Jasen. Umur Rafa 8 tahun membawa dirinya menyadari bahwa Ibu Jasen pergi untuk selama-lamanya dan tidak akan kembali. Sementara Jasen tidak sama sekali mengetahui hal tersebut. Karena itu, Rafa berjanjji menjaga dan merawatnya seperti adik kandungnya.
“Rafa”
Mendadak langkah kaki Rafael dan Jasen berhenti,
“kenapa Jasen”
“main di kamarku yuk”
Sesuai bentuk permohonan manis dari Jasen, Rafa mengikuti dan berjalan ke kamar milik Jasen. Mereka berdua mulai duduk dengan dua gelas coklat hangat yang selalu ada ketika permainan akan segera di mulai. Dahulu Ibu lah yang menyiapkan, namun kali ini sangat berbeda saat bibi yang membawakan coklat hangat milik Jansen dan Rafa. Tak bermasalah bagi Rafa, namun hati Jansen sedikit mengalami kegelisahan yang membuatnya memiliki perasaan yang tidak semestinya ada. Memang benar ada yang menyelimutinya, berkecamuk dan membentuk harapan yang hampir sama bahwa Jansen ingin Ibu yang mengantarkan coklat hangatnya. Coklat buatan Ibu yang selalu memiliki perasaan rasa yang tentu tidak akan pernah sama dengan buatan selain Ibu.
“mau main apa”
“Rafa bagaimana cara agar robotku bisa terbang dan menyampaikan pesan kepada ibu untuk segera pulang”
“jadi kamu sedang mencari cara untuk itu?”
“ia Jasen rindu Ibu”
Bagaimanapun Rafa harus berhasil melalui ini dengan baik, agar Jasen tidak berubah menjadi anak yang murung, pendiam dan tak ingin melakukan apapun. Masa depan Jasen masih begitu panjang, dan hal yang terburuk kedepannya dapat memberikan dampak yang bisa menghancurkan segalanya yang awalnya baik-baik saja saat ini.
“Jasen, terbangkan aja pakai balon warna merah”
“kenapa merah?”
Jasen menatap tajam menanti jawab dari Rafa.
“kata Ibu merah itu berani, jadi kalau ada badai apapun merah akan tetap menang dan berhasil sampai pada tujuannya.”
“nanti kalau ayah pulang Jasen minta balon”
“mmm gitu yah, ya udah Jasen coba ya”
“trimakasih rafa”
Tak banyak permainan hari ini, mereka berdua terlelap karena lelah mencari jalan untuk menerbangkan semua harapan Jasen. Dua gelas coklat hangat pun telah habis dan tandas dalam beberapa tegukan saja. Hingga lelap terbentuk secara tidak sengaja, menjadikan mimpi-mimpi berjumpa dan saling menabur kabar. Menyadari itu Bibi mengangkat Rafa dan segera kembali ke rumah saat Ayah Jasen telah pulang dari kantornya. Karena Bibi telah menyiapkan makan malam, Ayah tak perlu lagi bersusah payah bergelut dengan dapur yang dahulu sangat bersih namun sekarang nampak sangat tak terawat. Setelah larut dan malam, Jasen sudah terlanjur nyeyak dengan tidurnya dan ayah tidak tega membangunkannya.
Seperti biasa pagi kembali menjumpa, Jasen bangun dengan rambut cukup berantakan membawanya harus pergi ke kamar mandi dulu. Di ruang makan, Jasen meminta uang kepada Ayahnya yang di maksudkan untuk membeli beberapa balon untuk menerbangkan robot-robot bersama harapan. Namun, nampaknya ayah sangat sibuk dan lupa memberikan uang itu kepada Jasen.
Setelah sarapan pagi Jasen pergi ke belakang rumah, mengumpulkan sayur-sayur yang dahulu sering Ibu gunakan untuk mendatkan uang. Jasen belajar banyak hal dengan Ibu. Beberapa sayur dan buah di belakang rumah adalah hasil berkebun Jansen bersama Ibu. Ketika masa panen tiba Ibu tak malu untuk pergi menjual bersama Jasen kecil untuk sekadar membeli manisan mereka berdua. Melihat cara itu Jasen mengingat mungkin dengan ini Jasen bisa mendapatkan hal yang sama untuk membeli beberapa balon. Meletakkannya di keranjang Jasen berjalan mengelilingi komplek perumahan dengan menawarkan dua macam sayur saja. Mereka yang melihat pun merasa iba dan membeli semua sayur milik Jasen. Jasen pulang dengan beberapa uang yang mungkin cukup untuk membeli balon.
Jam menunjukan sudah menuju siang, artinya Ayah akan segera pulang dan Jasen tidak mau mendapat masalah atas perbuatannya yang keluar rumah tanpa izin. Ia pun pulang menunggu beberapa menit dan benar Ayah datang dengan seperti biasa semangkuk sereal coklat rasa strobery. Setelah Jasen menghabiskannya Ayah telah pergi kembali bekerja dan saat itulah waktu Jasen pergi mencari balon merah. Mungkin ia akan menemukan di taman, karena dulu Ibu sering membawanya main ke taman dan mendapatkan segala jenis mainan kesukaannya termasuk balon.
Jasen kecil mendorong sepeda mini nya yang masih dilengkapi dua penompang agar tetap memiliki keseimbangan stabil. Pinggiran jalan itu menjadi tepat untuk dia mengayuh pelan pergi ke taman seperti biasa. Kendaraan lain berjalan searah dan juga berlawanan arah. Pada lampu merah, mereka berhenti serentak mempersilahkan untuk warna hijau berjalan. Entah para pejalan atau pengendara yang lewat.
Sesampainya di taman, Jasen berkeliling mencari balon merah. Pada paman berbaju birulah ia berhenti mengulungkan beberapa rupiah untuk ditukar dengan balon merah seperti arah telunjuknya berhenti. Paman itu mengerti isyaratnya, dan memberikan dua balon merah pada Jasen. Namun muka Jasen tampak murung ketika menerimanya. Bagaimana tidak, ia harus memiliki lima belas balon jika ingin menerbangkan semua harapan itu. Hari ini uang yang ia miliki tak cukup dan Jasen sedih. Ia pun pulang dengan mengikat dua balon itu di sepedanya. Sepanjang jalan murung melunasi pikirnya.
“Ibu tidak akan pulang, jika aku tidak punya lima belas balon itu”
Lirih suara Jasen seakan benar-benar putus asa.
Setelah meletakan sepedanya di gudang, Jasen masuk dengan menarik dua balon merah. Mengatur posisi robotnya dengan selembar kertas yang terselip di dalamnya. Jasen akan menerbangkannya esok pagi saat Ayah pergi berangkat kerja, lalu berharap semoga Ibu sudah bangun dan lekas menerima surat lalu pergi pulang ke rumah.
Bunyi kicau burung, dan sedikit gangguan mocil kucing kecil miliki Jasen membangunkannya tepat di pagi hari buta. Saat Ayah saja belum mempersilahkan matanya terbuka. Jasen lekas menuruni tangga mengambil beberapa robot dan segera mengikatnya bersamaan dengan balon merah. Saat warna fajar berseri Jasen kembali naik ke tempat tidur sambil menunggu panggilan Ayah sarapan setelah itu ia akan melepaskan balon merahnya.
“Jasen ayo makan”
Akhirnya suara khas itu menyerbu langkah kaki Jasen untuk cepat turun, menghabiskan susu dan roti coklat miliknya. Sebelum pergi, pesan-pesan yang sama di sampaikan dan Jasen sudah hafal apa yang akan Ayah katakan.
Ayah pergi bekerja, Jasen berlari mengambil balonnya.
Di depan rumah, bersama hangatnya angin pagi Jasen menerbangkan satu buah balon merah lengkap dengan robot dan harapan. Jasen berdoa saat Ayah pulang Ibu pun turun dari mobilnya.
Sesudah menerbangkannya Jasen menunggu dan tidak sabar saat Ayah pulang, siang hari ini ia pasti akan pulang.
“Ibu pasti pulang”
Jelas Jasen saat menanti kepulangan Ayah bersama Ibu. Saat suara mobil itu datang, Jasen berlari membuka pintu samping tempat biasa Ibu duduk. Namun tidak ada, Jasen kembali sedih dan Ayah kebingungan melihat tingkah anaknya.
Hari kedua Jasen masih mencoba kembali, dengan suasana hati yang berharap tinggi terhadap Ibu. Kerinduan yang semakin tak terbendung membuat Jasen kehilangan arah dan tidak tau harus melakukan apa untuk membuatnya berjalan kembali pada peluk Jasen.
Sudah satu jam balon itu terbang, Ayah pulang di waktu jam makan siang. Jasen berpikir apakah Ibu akan menyuapi Jasen dengan sereal kesukannya di jam seperti ini. Jasen masih bertahan tidak makan dan minum agar saat Ibu datang ia akan kenyang dengan kasih sayang juga suapan yang sering Ibu lakukan.
Benar Ayah pulang, Jasen kembali berlari membuka pintu dan hanya sekotak mainan penuh yang Jasen dapatkan di dalam mobil itu. Wajahnya menjadi sangat murung dari kemarin. Ayah Jasen bingung mengapa dengan anaknya itu, hal apa yang membuatnya menjadi seperti ini.
Jasen sudah tak memiliki balon merah itu lagi, dan Ibu belumlah pulang. Ayah kebingungan melihat anaknya yang terus saja murung.
“Jasen kamu kenapa nak”
“kapan Ibu pulang yah”
Ayah terdiam membisu, menyadari penyebab anaknya murung dan begitu sedih. Lalu langkah nya berjalan pergi meninggalkan Jasen, untuk memanggil Bibi dan Rafael mungkin mereka bisa membantu.
Saat keluar dari rumah, Ayah memfokuskan pandang pada robot seperti milik Jasen tergeletak di jalan. Ayah mengambil lalu menemui sepucuk kertas bertuliskan
“Ibu pulanglah, Jasen”
Jiwanya terketuk, rasanya seperti telah mengabaikan kesedihan dan kerinduan yang selama ini Jasen rasakan. Ayah Jasen pergi berlari mengabari anaknya bahwa esok mereka akan segera mendapatkan liburan.
Sesampainya di rumah, nampak wajah murungnya tak berlalih bahagia, Ayah memeluk pria kecilnya sambil menepuk pelan-pelan bahunya.
“esok kita pergi ke pantai yah”
“tapi Ayah boleh Jasen minta balon merah?”
“berapa banyak nak, nanti Ayah bawakan untukmu”
“tiga belas Ayah”
“baik nak esok Ayah belikan, sekarang kamu makan dan lekas beristirahat”
Mendengar Ayah akan membeli sisa balon, sedikit senyum Jasen merona merah dari pipi kanan dan kirinya. Tampak harapan itu tak sedetikpun beralih dari pikirannya. Setelah menuruti perkataan Ayah, Jasen memilih istirahat di kamar membayangkan hari dimana Ibu pulang akan segera tiba. Sungguh Jasen merasa tidak sabar saat Ibu akan memeluk dan mencium Jasen lalu menggendongnya walau tubuh Jasen tidak lagi kecil.
Kini hari sudah mencapai gelap, langit-langit telah menampilkan beberapa bintang untuk menghiasi. Serta bulan menjadi satu-satunya paling indah di kala malam hari. Ayah Jasen membeli beberapa balon merah dari toko sebelah, meniupnya sendiri walau beberapa kali balon itu meletus Ayah tetap berusaha mencapai angka yang diminta oleh Jasen.
Terdengar panggilan Ayah untuk Jasen lekas membuka matanya dan beranjak dari tempat tidur. Namun, belum sempurna Jasen menurunkan kakinya ia pun disambut dengan tiga belas balon merah. Wajahnya semakin bersemangat lalu segera mengikat robotnya pada balon itu. Ayah cukup senang melihat putra kecilnya tak lagi sedih, pelukan Jasen yang erat membuat Ayah menyadari bahwa waktu bersama Jasen harus lebih banyak. Agar Jasen kecil tidak merasa kesepian saat ibunya telah tiada.
Mereka bersiap dan bergegas, nampaknya hari juga mendukung dengan warna sinar mentari cukup terang hanya sedikit mendung di beberapa titik. Membawa bekal dan memasukan balon-balonnya itu hal yang menyenangkan bagi Jasen dan Ayah. Senyum diantara keduanya melambung tinggi, ditemani lagu-lagu riang Jasen bernyanyi dan menikmati setiap perjalannannya.
Hingga mereka sampai pada pantai itu, tempat yang sering di kunjungi Ayah, Ibu dan Jasen ketika libur musim panas tiba. Membuat istana, bermain air atau menuangkan Jus adalah kesukaan Jasen. Hari ini cukup Ayah dan Jasen yang mengulanginya ditambah tiga belas balon yang akan di terbangkan Jasen. Satu demi satu Jasen melepas balon itu bersama senyum juga harap. Saat balon terakhir, Jasen memberikannya kepada Ayah untuk membuat harapan agar Ibu lekas pulang. Ayah menatap Jasen dengan tersenyum walau hatinya tercabik.
Kini lengkap sudah lima belas balon harapan, sedang berjalan menembus langit. Mengirim pesan-pesan Jasen kepada Ibu.
“Ayah apakah esok Ibu akan benar-benar pulang?”
Entah harus dengan jawaban apa untuk menjelaskan kepada Jasen, dan Ayah hanya tersenyum lalu kembali memeluknya.
Sudah beberapa jam mereka menghabiskan waktu, kini Ayah dan Jasen kecil memutuskan segera pulang dan kembali beristirahat.
Esok hari Jasen harus bangun pagi menyiapkan segalanya untuk kedatangan Ibu kembali ke rumah. Sereal dan susu adalah satu makanan yang Jasen kuasai cara pembuatannya. Saat Ayah pergi kembali bekerja Jasen sudah menunggu Ibu membunyikan bel rumah, dan benar saja suara bel itu terdengar riang di kepala Jasen. Kaki mungil itu berlari tanpa jeda dan membukanya.
Jasen mendapatkan sepucuk surat tertanda untuk Jasen anakku, mungkin itu dari Ibu. Jasen segera mengambil dan membacanya
“untuk jasen sayang, Ibu baik-baik saja disini. Jasen anak pintar, anak kebanggaan ayah dan Ibu. Jasen harus kuat disana yah, Ibu sudah membaca semua pesan Jasen. Tapi Ibu belum bisa pulang, namun sayang Ibu untuk Jasen pasti abadi. Jasen tetap semangat yah, Ibu selalu mengawasi Jasen dari sini. Ibu sayang Jasen. ”
Jasen tersenyum sambil menatap birunya langit hari ini. Rindunya telah sampai, walau raganya tak kunjung hadir di hadapannya.
Tamat.
Penulis : Ratuifha
















